Review: Hobbit – Book and Movie

Judul buku : The Hobbit
Penulis : J. R. R. Tolkien
Alih bahasa : A. Adiwiyoto
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 352 halaman
Ukuran : 23 cm
ISBN: 978-979-22-8633-5
Cetakan ketujuh, Desember 2012

Bilbo Baggins tidak jauh berbeda dari kebanyakan hobbit lain yang cinta kedamaian dan senang menyenangkan perut mereka dengan makanan. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk melakukan petualangan sekalipun dia memiliki garis keturunan Old Took,hobbit yang terkenal sebagai petualang. Tapi, dia sendiri tidak pernah menganggap dirinya sebagai petualang. Dia lebih suka berada di liangnya daripada harus bergelut di alam bebas sana.

Siapa sangka, pertemuan singkat dengan Gandalf di pagi hari merubah hidup Bilbo secara perlahan namun pasti. Percakapan sederhana yang berujung tawaran melakukan petualangan ditolak oleh Bilbo. Gandalf tidak menyerah karena dia malah ‘memaksa’ Bilbo untuk mengadakan jamuan untuk ketigabelas kurcaci, calon teman seperjalanannya.

Bilbo pun akhirnya tergerak dan setuju untuk ikut dalam rombongan yang terdiri dari tiga belas orang kurcaci, satu penyihir dan satu hobbit-dirinya sendiri.Nama para kurcaci berdasarkan kedatangan mereka ke rumah Bilbo: Dwalin, Balin, Kili, Fili, Dori, Nori, Ori, Oin, Gloin, Bifur, Bofur, Bombur, dan Thorin. Dan penyihir yang ikut serta, tidak lain adalah Gandalf.

Dalam perjalanan menuju Gunung Sunyi, mereka harus berjuang dengan bermodalkan keteguhan hati, kejujuran dan keyakinan satu sama lain.Bukan hanya fisik yang teruji. Mental, kejujuran bahkan persahabatan yang terjalin di antara mereka pun teruji. Mereka nyaris lupa bahwa mereka harus berhadapan dengan Smaug, naga yang telah memporak-porandakan Dale dan merampas harta dari kerajaan yang dipimpin oleh Thror, kakek dari Thorin. Padahal, naga terkenal dengan kecintaannya terhadap barang jarahannya.

Bagaimana mereka menempuh segala macam rintangan dan mengatasi masalah tak terduga yang muncul? Apakah hanya Smaug yang harus mereka khawatirkan di ujung perjalanan mereka? Dan, apakah Bilbo berhasil meyakinkan kurcaci teman seperjalanannya bahwa dia bisa diandalkan?

Saya mengeryitkan kening saat membaca komentar yang singkat dari The Time di cover buku ini. Hanya “Mahakarya yang sempurna.” Setelah saya mulai membaca, barulah saya mengerti bahwa komentar tersebut adalah tepat adanya.

Buku ini tidak terlalu tebal, namun ukurannya yang “tidak biasa” membuat saya sedikit ragu bisa menyelesaikan membaca dalam waktu singkat. Dan ternyata, memang rasanya susah melepaskan buku ini kalau sudah ‘terjerat’ dalam pesonanya.

Pada halaman awal, terdapat peta tanpa judul, dengan berbagai huruf aneh yang tidak saya mengerti. Ada semacam prologue yang menjelaskan tentang huruf rune, huruf yang tadi saya sebutkan. Tapi, tidak ada penjelasan gamblang tentang arti per huruf. Saya pun tertarik untuk memecahkannya satu per satu berdasarkan penjelasan yang diberikan. Ada kata yang tersusun tidak rapi, yakni when yang tertulis hwen, menurut ‘penerjemahan’ saya (hal 9, deretan huruf rune di bagian bawah) Kalau ada yang tidak mau repot ‘memecahkan misteri’, berikut saya lampirkan ‘kamus’ huruf rune yang saya temukan.

Di novel ini, penulis mengambil sudut pandang sebagai orang ketiga yang serba tahu. Melihat banyaknya pembahasan tentang nyanyian, saya menyimpulkan bahwa penulis adalah orang yang punya minat tinggi terhadap musik, juga terhadap kata-kata yang indah. Cukup banyak puisi yang dapat kita temukan di dalam buku ini, yang ditulis sebagai nyanyian atau senandung dari tokoh di dalam cerita.
Saya berdecak kagum saat tahu ilustrasi di dalam buku dibuat oleh J.R.R. Tolkien sendiri. Dari sini, saya melihat ada karakter perfeksionis dalam diri Tolkien. Terbukti, Tolkien ingin agar peta yang menjadi ilustrasi ditempelkan secara terpisah dari buku. Bahkan, dia mengharap agar dalam peta tersebut memang ada tulisan moon-rune (huruf bulan) yang bisa dilihat kalau kertas diarahkan ke sumber cahaya. WOW!

Penerjemah pun melaksanakan tugasnya dengan baik, mengingat saya tidak menemukan banyak kejanggalan,kecuali tentang pengertian hobbit dan orang. Penerjemah memberi tanda kutip saat menulis se-“orang” hobbit (hal. 11). Memang hobbit berbeda dari manusia, dan itu juga ada penjelasan di bagian selanjutnya. Tapi, seringkali hobbit tetap disebut sebagai hobbit saja, terkadang disebut dengan orang. Mungkin penerjemah punya pertimbangan tersendiri untuk itu, tapi menurut saya pribadi, itu cukup mengganggu karena terlihat tidak konsisten.
Ada juga beberapa hal yang menurut saya seharusnya tidak perlu diubah ke bahasa Indonesia walau ya, cukup mempermudah dan praktis dalam membaca. Hal lain yang membingungkan saya, soal orc dan goblin. Seperti tidak ada bedanya padahal setahu saya berbeda. Penerjemah sepertinya berusaha agar mudah dipahami oleh pembaca, tapi malah membuat saya kebingungan.

Novel Hobbit sendiri sudah mengalami beberapa revisi. Ada beberapa hal yang diubah,antara lain: pada Hobbit versi awal, Gollum sendiri yang menawarkan cincin yang dia punya sebagai taruhan. Baru pada revisi berikutnya, Gollum dibuat lebih agresif dan penuh hasrat kepada Bilbo.

Beberapa karakter yang menurut saya cukup menonjol perannya di sini adalah: Bilbo (tentu saja!) sebagai satu-satunyahobbit dan anggota terakhir di dalam rombongan, Gandalf sang penyihir, Thorin sang keturunan Raja Thror, Blain yang bijaksana, Oin-Gloin yang pandai membuat api, Kili-Fili yang termuda di antara para kurcaci, Bombur yang berperawakan paling besar.

Buku ini adalah buku yang wajib dibaca oleh orang dengan jiwa petualang, orang dengan kepedulian yang tinggi terhadap sesama, orang yang senang berimajinasi.
Ah, rasanya buku ini bisa dibaca oleh siapapun yang tidak keberatan untuk tahu lebih banyak. Yak, seperti judul dari film-nya yang beredar November 2012, The Hobbit: an unexpected journey (Hobbit: perjalanan yang tak terduga)

Saya terlebih dulu menonton film The Hobbit: an unexpected journey sebelum membaca bukunya. Saat akan menonton film yang berdurasi nyaris 3 jam ini, saya sedikit ragu karena menurut beberapa teman saya film-nya membosankan. Ternyata, saya tidak bisa berkedip dari awal perjalanan sampai dengan akhir cerita.

Adegan film dimulai dengan Bilbo yang sudah berumur hendak menuliskan ceritanya kepada Frodo, keponakannya. Dan, ya, sosok Frodo dalam film ini yang berhasil mencuri perhatian saya. Sayang sekali Frodo hanyalah sekedar ‘tempelan’ karena yang menjadi pusat perhatian dalam film ini adalah Bilbo muda, yang diperankan dengan apik oleh Martin Freeman.
Selain Elijah Wood yang memang mempesona, sosok Kili yang diperankan Aidan Turner pun membuat saya jatuh hati. Digambarkan di dalam film, Kili adalah andalan dari rombongan Thorin dkk sebagai pemanah ulung, walaupun saya tidak menemukan keterangan tersebut dalam buku. Jadi, saya sedikit kecewa saat membaca buku dan menemukan sedikit sekali pembahasan tentang Kili.

Film ini berhasil memanjakan mata saya, sekaligus telinga saya. Saya menikmati adegan demi adegan saat para kurcaci bernyayi dan berdansa. Saya ikut memutar otak saat mendengar Bilbo dan Gollum saling melempar teka-teki. Bahkan pertempuran dengan goblin dan warg pun membuat saya berdebar, cemas tapi antusias.

Beberapa detail di dalam cerita memang tidak persis sama seperti di buku, tapi menurut saya tidak mengganggu karena cukup memperkuat karakter dan menimbulkan daya tarik tersendiri bagi penonton, terutama yang belum pernah membaca bukunya.
Kalau diharuskan memilih, saya tetap lebih suka dengan cerita yang ada di dalam buku. Tapi, film-nya sendiri berhasil membuat saya berhasrat untuk membaca buku yang sebenarnya bukan genre favorit saya. Bahkan, saya berniat memperlengkap koleksi saya dengan novel grafis-nya.

Apa pelajaran yang saya dapatkan begitu selesai membaca buku Hobbit? Jangan memandang remeh kepada siapa pun karena kau tidak tahu ‘keajaiban’ apa yang bisa dia buat 😀

Kalimat favorit

Buku:

Jangan menertawakan naga yang masih hidup –

Film:

Loyalty, honor, a willing heart, I can ask no more than that.

Hobbit wajib direkomendasikan kepada teman, keluarga, kerabat atau bahkan anak-cucu kelak. Ceritanya tak lekang oleh waktu dan membawa kita ke dunia baru, dunia yang mungkin tak pernah kita duga sebelumnya

Lots of love, ♥ ZP ♥

Rate (both, movie and book) : ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

One thought on “Review: Hobbit – Book and Movie

  1. Banyak yang bilang buku ini lebih ringan dari trilogi LOTR. Aku sendiri belum bisa membuktikan sih, belum baca LOTR soalnya 😀 yang pasti buku ini seru banget. Sehabis baca buku ini aku jadi pengen baca edisi Inggrisnya, soalnya bagian teka-teki Bilbo vs. Gollum pasti lebih seru disitu tuh 🙂

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s