Book Review: The Not So Amazing Life of @amrazing – Alexander Thian

Judul: The Not So Amazing Life of @amrazing

Penulis: Alexander Thian

Penerbit: GagasMedia

Tebal: 220 hal.

ISBN: 978-979-780-586-9

Cetakan kedua, 2012

“Meributkan yang tak penting, menyepelekan yang penting”

Tagline yang pas sekali untuk buku ini.

Seperti kebanyakan orang yang lain, saya membeli buku ini karena ‘kehebohan’ yang kerap terjadi di twitterland. Alexander Thian terkenal sebagai salah satu selebtwit alias orang yang eksis di twitter, alias.. orang kurang kerjaan? #kaburnaikodong2

Berhubung saya senang dengan caranya berkicau di twitter, saya pun tertarik untuk membeli bukunya. Ingin tahu, seperti apa sih seorang Alex akhirnya bercerita lewat buku? Dan hasilnya, buku ini sukses menghibur saya!

Saya membaca buku ini dalam waktu kurang dari dua jam, kalau dihitung secara bersih, ya. Maklum, waktu itu multi-tasking. Sambil menunggu handphone yang diservice, ngemil sebentar sambil baca buku ini. Diliatin sama pengunjung yang lain karena heboh sendiri, tapi peduli amat. Toh enggak akan ketemu sama mereka lagi #alibi

Bahkan, karena saya tidak sabar ingin melanjutkan membaca, saya tetep baca buku ini di dalam taksi saat perjalanan pulang. Padahal, main handphone selama perjalanan aja biasanya saya anti karena sering pusing. Tapi buku ini sukses bikin saya penasaran pengen baca terus.

Dan saat akhirnya sudah tiba di halaman terakhir, saya pun mengeluh kecewa. Yaahhh.. udah nih? 😦

Saya senang dengan cara bercerita Alex. Dia tahu betul cara membuat cerita yang disampaikan tidak terasa membosankan. Hal yang biasa bisa menjadi luar biasa kalau dilihat dari kacamata seorang Alexander Thian. Mungkin, untuk buku selanjutnya, judulnya bisa Alex dan Kacamata Ajaib, ya.. #maksa #abaikan

Menurut saya, buku ini seperti gabungan antara My Stupid Boss dan Anak Kos Dodol. Kalau menurut saya beberapa cerita di My Stupid Boss terlalu pendek sedangkan Anak Kos Dodol kebanyakan terlalu panjang hingga saya sedikit malas membaca secara komplit, TNSALOA pas.

Cerita disampaikan dalam porsi yang tepat, tidak berbelit-belit walau tetap ada dramatisasi yang memang diperlukan agar cerita semakin ‘seru’.

Pembaca diajak tidak hanya menertawakan si penulis (iya, memang itu kan tujuan penulisan buku ini? :p) tapi belajar melihat segala sesuatu secara objektif. Seperti tagline-nya, terkadang kita terlalu meributkan hal yang sepele dan menyepelekan hal yang penting. Apakah kita sudah melihat hidup dengan cara yang tepat?

Total, ada 14 cerita yang termuat di dalam buku ini. Sejujurnya, saya suka semua cerita di dalam buku ini.

Tapi..

Cerita yang paling menyentuh buat saya adalah cerita dengan judul Dummy Seharga Dua Juta. Rasanya ikutan kesel pas baca ceritanya. Rasanya pengen ikutan nangis dan enggak berhenti ngomel, bahkan saat nginget kembali (termasuk sekarang, pas nulis review ini) keselnya masih ada di ubun-ubun. Kenapa, oh, kenapa? 😦 Tapi, saya suka dengan semangat Pak Soni. Dia tidak merasa perlu dikasihani, walau kita pasti merasa kasihan sama dia. I love his spirit and love to his son 🙂

Cerita yang paling membuat saya susah berhenti ngakak adalah Preman Jadi-jadian. LUCU!

Nah, itulah, as I mentioned before, tagline buku ini emang pas banget. Alexander Thian berhasil membuat kita terhibur dengan cerita yang sepertinya ‘biasa aja’ tapi tetep bikin mikir, “Iyaa juga, yaa.. Hmm..”

Karakter favorit saya dalam buku ini adalah Pak Bambang, yang membuat saya bimbang untuk bersikap pada orang yang tidak dikenal. Who knows kalau ternyata orang yang kita anggap ‘biasa aja’ atau bahkan ‘enggak banget’ sebenarnya lebih hebat daripada kita? Don’t judge book by its cover. Selalu didengar tapi sulit sekali dilaksanakan.

Anyway, kalimat favorit saya dari buku ini juga ngomongin soal sulit-sulit nih:

Sometimes, acceptance is the hardest thing to do. Not because we can’t, but because we just don’t want to. We hold on to things that are no longer there, because we’re not ready to let go – hal. 211

Yang saya enggak suka di buku ini, kenapa enggak ada kisah asmara-nya yaa? Mungkin kisah kasih antara hyena satu dan dua? XD

Sebenernya, yang di bagian terakhir, sedikit ada nuansa romance, tapi.. entahlah, I expect something more than that. Why? Well, maybe karena saya terbius oleh #PecahDiUbud atau..I’m just hopeless romantic X))

Overall, I love this book. Cocok dibaca kalau memang butuh bacaan ringan. Menghibur tapi tetap bermakna. Wajib dibaca juga kalau kamu mengaku sebagai follower-garis-keras dari @amrazing.

Oh ya, jadi inget, kalau ada yang kasih komentar ke Alexander Thian soal tanda-tangannya. Katanya, tanda-tangan si penulis terlalu ribet, seharusnya dibuat sederhana aja karena orang sukses biasanya tanda-tangannya malah gak ribet #penting XD

Senang udah beli buku ini karena telah membuat hari-hari saya jadi seru dan ceria kembali. Iya, hari-hari, karena saya re-read buku ini beberapa kali kalau lagi suntuk dan enggak bisa tidur :p

Lots of Love, ♥  ZP ♥

Rate: ♥ ♥ ♥ ♥

4 thoughts on “Book Review: The Not So Amazing Life of @amrazing – Alexander Thian

  1. Pingback: [Book Kaleidoscope 2013] Top Five Memorable Quotes | Me: Book-admirer

  2. Seandainya gak baca postingan kamu ini, saya gak bakal tahu kalo ternyata buku The Not So Amazing Life of @amrazing – Alexander Thian ini kumpulan beberapa cerita. Tadinya saya pikir novel romanca biasa, lah ternyata isinya komedi toh. 😀

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s