Book Review – Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib

Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib – Cr: goodreads

Judul: Charlie and the Chocolate Factory – Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib

Penulis: Roald Dahl

Alih bahasa: Ade Dina Sigarlaki

Ilustrasi: Quentin Blake

ISBN: 978-979-686-889-6

Tebal: 200 hal.

Enam orang dewasa dan satu anak kecil, tinggal di sebuah rumah kayu kecil di pinggir kota besar. Mereka bukan hanya sekedar miskin, bahkan sangat miskin! Tidak heran karena di antara mereka, hanya Mr. Bucket yang bekerja. Itu pun sebagai buruh di pabrik odol, dimana yang dia lakukan adalah memasang tutup odol. Tidak peduli seberapa keras dia berusaha, sangat sulit untuk bisa memberi makan yang layak bagi seluruh orang di rumahnya.

Kelima orang dewasa lain yang ada di rumah itu adalah Grandpa Joe dan Grandma Josephine -orangtua dari Mr. Bucket, kemudian Grandpa George dan Grandama Josephine-orangtua dari Mrs. Bucket, dan tentu saja, Mrs.Bucket, istri dari Mr.Bucket dan juga ibu dari Charlie, anak yang tinggal juga di rumah itu.

Walau kehidupan mereka menyedihkan, mereka tetap memiliki saat-saat ceria dalam satu hari. Saat itu adalah saat malam hari. Begitu Charlie masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh kakek-neneknya, mereka akan langsung dengan ceria menyambutnya dengan berbagai cerita. Dan ya, keempat orang tersebut tidur di atas satu kasur yang sama, berbagi tempat sepanjang hari karena mereka terlalu lemah untuk bergerak.

Charlie sangat sayang pada keluarganya dan tidak mengeluh dengan keadaan sulit yang dialami. Keluarganya pun sangat sayang padanya sehingga mereka semua selalu mengumpulkan uang yang mereka punya agar bisa membelikan Charlie sebatang cokelat untuk hari ulangtahunnya.

Cokelat adalah barang mewah untuk Charlie. Dia memakan sebatang cokelat itu dengan penuh perasaan, agar tidak cepat habis dalam sekali gigitan. Sebatang cokelat yang dia dapat untuk ulang tahun, bisa dia habiskan dalam waktu sebulan!

Setiap hari dalam perjalanan ke sekolah dan saat pulang, Charlie melewati pabrik cokelat Wonka yang sangat terkenal. Bau cokelat yang sangat menggoda selalu menggoda Charlie untuk bisa melihat isi dari pabrik Wonka. Terutama, setelah Grandpa Joe dengan bersemangat bercerita tentang kemahsyuran cokelat kreasi Mr. Willy Wonka. Semakin membuat Charlie bertanya, apa sebenarnya rahasia dari pabrik cokelat yang terkenal itu?

Grandpa Joe menyebutkan bahwa dulu sekali ada pekerja di sana, tapi sejak pengkhianatan besar-besaran, pabrik ditutup dan Mr. Willy Wonka menghilang selama berbulan-bulan. Tiba-tiba saja, asap pabrik kembali mengepul. Yang aneh, tidak ada yang pernah keluar atau masuk ke dalam pabrik, termasuk Mr. Willy Wonka sendiri! Aneh, bukan?

Charlie masih diselimuti rasa penasaran saat kemudian ayahnya muncul dan memberi kabar bahwa ada sayembara untuk mendapatkan “Tiket Emas” dari Mr. Willy Wonka. Cobalah tebak, apa hadiah yang ditawarkan. Kesempatan untuk masuk ke dalam pabrik Wonka dan melihat rahasia pembuatan cokelat di dalamnya! Bukan hanya itu, dari lima anak yang beruntung tersebut, masing-masing akan mendapatkan persediaan cokelat untuk seumur hidup. Sungguh tawaran yang menggiurkan, bukan?

Sayangnya, seperti yang disebutkan sebelumnya, hanya terdapat lima “Tiket Emas” yang dapat ditemukan dari jutaan cokelat yang diproduksi oleh pabrik Wonka. Dengan kenyataan bahwa Charlie hanya menerima satu cokelat sepanjang tahun, maka kesempatan Charlie sangatlah tipis.

Tapi Grandpa Joe tidak berhenti berharap. Dia berusaha sedemikian rupa agar Charlie bisa mendapatkan “Tiket Emas”. Saat cokelat ulang tahun Charlie tidak memberikannya “Tiket Emas”, Grandpa Joe memutuskan untuk memberikan simpanannya untuk dibelikan cokelat Wonka.

Dari situ kita bisa melihat bagaimana bersemangatnya Grandpa Joe agar Charlie bisa mendapatkan “Tiket Emas”. Tidaklah heran, kalau akhirnya Grandpa Joe akhirnya dipilih sebagai pendamping Charlie untuk berkeliling di dalam pabrik.

Bagaimana cara Charlie mendapatkan “Tiket Emas”, cukup membuat saya gemas dan sedikit terkejut. Awalnya saya mengira kalau Charlie akan memperolehnya dengan cara yang “mudah”, tapi ternyata, well, tidak semudah yang saya bayangkan.

Saat akhirnya hari untuk berkunjung tiba, semua anak yang beruntung sudah menanti dengan tidak sabar di pintu gerbang pabrik. Saya akan mengutip dari bagian awal buku untuk menyebutkan lima anak yang beruntung:

Ada lima anak di dalam buku ini:

AUGUSTUS GLOOP

Anak laki-laki yang rakus

VERUCA SALT

Anak perempuan yang dimanja orangtuanya

VIOLET BEAUREGARDE

Anak perempuan yang mengunyah permen karet sepanjang hari

MIKE TEAVEE

Anak laki-laki yang kerjanya hanya menonton televisi

dan

CHARLIE BUCKET

Tokoh kita

Perjalanan berkeliling pabrik cokelat dipimpin sendiri oleh Mr. Willy Wonka yang menyambut mereka dengan riang gembira. Saya rasa sangatlah wajar kalau dia berbahagia, karena dia memiliki dan tinggal di dalam pabrik cokelat yang luar biasa menakjubkan!

Mr. Willy Wonka adalah tokoh favorit saya dari buku ini. Cara dia berbicara yang jenaka namun tetap mencerminkan kecerdasan. Dia sangat cinta dengan apa yang dia punya dan tahu persis apa yang sedang dia lakukan. Such a charming person.

Saya juga sangat mengerti mengapa Mr. Willy Wonka akhirnya memilih untuk memakai Oompa-Loompa sebagai pekerja. Sesama pencinta cokelat tentu tahu bagaimana menjaga cita rasa cokelat terbaik.

Saya kagum dengan segala kreasi ciptaan Mr. Willy Wonka, yang tentunya berujung dengan kekaguman saya atas imajinasi liar dan luar biasa yang dimiliki oleh sang penulis, Roald Dahl.

Membaca buku ini seperti sedang membaca impian saya sewaktu kecil. Tentu saja,secara spesifik,mimpi tentang pabrik cokelat tersebut.

Berikut berbagai hasil imajinasi Dahl untuk cerita ini yang sangat menarik perhatian saya:

– Sungai cokelat, siapa yang tidak ingin untuk duduk di kapal, sambil meminum cokelat yang bisa kita isi ulang sendiri? Sambil melihat pemandangan yang tidak lain tidak bukan adalah permen, cokelat, gula-gula, dimana-mana. It must be lovely.

– Kertas dinding untuk kamar anak yang bisa dijilat. Siapa yang tidak ingin?

– Es krim panas buat hari-hari dingin. Rasanya menyenangkan untuk bisa tetap menjilat es krim walau di hari yang super dingin.

Kalimat favorit saya ada di bagian lagu yang dinyanyikan oleh para Oompa-Lompa untuk Veruca Salt:

Semua cerca dan celaan

Hanya ditujukan pada Veruca Salt?

Apakah hanya ia yang bersalah?

Karena meskipun ia sangat dimanja,

Seorang anak memanjakan dirinya sendiri

tak mungkin bisa

Lalu, siapa yang memanjakannya, coba?

Ah, siapa ya?

Lagunya jauh lebih panjang dari yang saya tulis. Saya yakin yang hendak disampaikan adalah sebenarnya anak manja bukanlah salah dari anak itu sepenuhnya. Orangtua juga berperan dalam membentuk kepribadian yang buruk itu.

As always, Roald Dahl memberikan gambaran bagaimana hidup itu tidak selalu manis dan terkadang asam, dengan cara yang sangat menarik.

Kekurangan dari ceritanya? Saya hanya berharap dia memberikan penjelasan lebih banyak lagi tentang isi pabrik cokelat Wonka.

Oh ya, masih ada lagi rangkaian kata yang saya suka dari buku ini:

Oh buku, betapa bagus buku-buku

yang mereka baca dulu,

Anak-anak yang hidup di masa lalu!

Jadi tolong, oh tolonglah, kami meminta, kami berdoa,

Pesawat televisimu buang saja,

Dan sebagai gantinya kau bisa memasang

Sebuah rak buku indah yang panjang.

Lalu penuhi raknya dengan banyak buku,

Couldn’t agree more 🙂

Lots of Love, ♥ ZP ♥

Rate: ♥ ♥ ♥ ♥ ♥

12 thoughts on “Book Review – Charlie dan Pabrik Cokelat Ajaib

  1. aku belum punya buku karya RD sama sekali. Udah tau sih Charlie and Chocolate Factory tentang apa, secara udah nonton filmnya sejak jama baheula. Tapi tetep mau baca secara ini RD

    Like

  2. Aku suka buku ini, suka juga filmnya. Freedie Highmore pas banget dengan tokoh Charlie 🙂
    Tokoh favoritku adalah Charlie. Di mataku, Charlie adalah sosok anak-anak yang sebenarnya anak-anak. 😀

    Like

    1. Aku juga suka banget! Aduh, aku gak kebayang kalau ini beneran adaaa… Kyaa XD
      Aku malah tertarik sama Mr. Wonka dan Grandpa Joe, mereka..entahlah, aku bisa merasakan semangat dalam diri mereka 😀

      Like

  3. Pingback: Movie Review: Charlie and the Chocolate Factory | Book-admirer

  4. Pingback: [Opini Bareng] Klimaks dalam Cerita | Book-admirer

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s