Book Review – Pop Corn [1-26]

Pop Corn series

Judul: Pop Corn

Penulis: Yoko Shoji

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Nakki datang sebagai murid pindahan di SMP Satomi. Segera saja ia bertemu dengan teman-teman yang menyenangkan dan menjadi semacam ketua geng dari kelompok badung. Tapi, meski menyebut diri sebagai kelompok badung, mereka tidaklah semacam geng yang kerjanya menindas orang lain atau membuat kekacauan. Ah ralat, mungkin ada sedikit kekacauan, tapi lebih ke arah keramaian atau..hm, apa kata yang tepat untuk menjelaskannya? Membawa suasana yang meriah dalam suatu peristiwa atau hubungan?

Kelompok badung terdiri dari enam orang remaja. Kitashiro Naoko alias Nakki yang sudah saya sebutkan sebelumnya, berpendirian bebas, apa adanya dan selalu ceria. Kinoshi Hatsune yang lembut, labil dan suka bikin saya gemes di bagian awal karena kelemahannya. Satsune Mai yang pintar dan rajin. Iwasaki Hajime yang cenderung kekanakkan sekaligus sedikit keras kepala namun sangat bertekad penuh untuk mencapai apa yang diinginkan. Ada juga Tamura yang sepertinya salah satu cowok idaman pula karena udah ganteng, pinter, anak orang kaya lho (ketauan deh matrenya, hahah..) Dan anggota yang paling belakangan bergabung adalah Okita.

Sejujurnya, saya sudah lupa nama lengkap Tamura dan Okita. Terus, mau ngubek lagi buat cari nama lengkap mereka rasanya malas. Silahkan cari tahu sendiri ya 😛

Seri ini terdiri dari 26 buku. Judul aslinya adalah Seito Shokun dan pertama kali diterbitkan di Jepang pada tahun..1978! Wow, saya sendiri sempat terbengong-bengong saat lihat tahun terbit buku volume pertama dari seri ini. Di Indonesia sendiri, pertama kali diterbitkan adalah tahun 1991.

Saya sendiri pertama kali membaca seri ini sekitar.. mungkin sepuluh tahun yang lalu. Ah, tidak, sepertinya lebih. Mungkin sudah limabelas tahun yang lalu. Astaga, saya tidak menyangkan bahwa saya membaca cerita ini di usia yang masih super belia! Well, enggak belia banget juga sih, tapi kayaknya belum SMP juga.

Nah, yang saya suka dari cerita ini adalah kerasa banget komik-nya. Adegan kocak yang lebay dan emang bikin ngakak. Keakraban antar tokoh yang emang kental banget. Walau terkadang, ada beberapa hubungan juga yang saya tidak bisa mengerti. Iya, saya tahu kalau Nakki itu orang yang menyenangkan, tapi membayangkan segitu mudahnya Nakki dicintai oleh siapapun dan begitu mudahnya dia meluluhkan hati orang lain, hmm..sepertinya agak gimana gitu.

Satu-satunya yang gagal dia ‘dapatkan’ adalah Kak Tobishima, yang akhirnya malah jadi sama kakak kembar Nakki, Maru. Itu pun, Tobishima tadinya emang naksirnya Nakki. Terus, saya juga sedikit bingung, apa sih sebenernya penyakitnya Maru? Jadi kurang berasa aja gitu, dramatisnya saat dia sakit.

Atau mungkin di jaman dulu ada penyakit seperti Maru itu di Jepang dan cukup marak ya? Ah, entahlah. Saya kurang tahu 😀

Yang pasti, saya senang dengan keseluruhan cerita di buku ini. Beberapa volume menurut saya sedikit membosankan karena saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan adegan yang terlalu didramatisir. Meski begitu,secara keseluruhan, cerita yang disajikan menarik dan bikin saya pengen baca terus dan terus.

Saya merasakan koneksi yang kuat dengan mereka. Tak heran kalau kisah mereka akhirnya diangkat menjadi buku oleh salah satu karakter dalam seri ini. Jadi pengen baca dalam bentuk teksnya. Meski menurut saya ada beberapa adegan yang memang lebih cantik dan apik digambarkan lewat gambar.

Volume favorit saya adalah volume 6 dan 14. Volume 6 adalah saat mereka mengadakan pesta natal di rumah Okita. Suasana keakrabannya tuh, nyaman banget. Merayakan suatu moment bersama orang terdekat memang paling tepat di rumah sih ya, dengan dekorasi dan konsumsi yang ‘seadanya’. Saat dijalankan bersama dengan orang yang tepat, akan terasa menyenangkan J

Sedangkan volume 14 adalah bagian yang menurut saya super kocak dengan munculnya Jinie Reighland, si bule yang sembarangan banget. Somehow, menurut saya dia itu menggemaskan lho. Even cuter than Tobishima. Ah ya, saya juga lebih suka Tobishima dalam potongan rambut pendek. Cuma Okita yang pantes berambut panjang –kemudian terbayang Okita yang gagah karena rajin naik gunung, duh..makin susah tidur deh!

Sedikit informasi tentang penerjemah untuk seri ini, sampai dengan volume ke-17, diterjemahkan oleh Lembaga Studi Asia. Volume 18 oleh Retno. Volume 19 sampai dengan tamat diterjemahkan oleh Liastuti.

Sampai sekarang saya juga tidak mengerti kenapa dipilih judulnya PopCorn. Saat saya coba cek arti Seito Shokun di mbahgugel, hasilnya pun bukan popcorn. Mungkin ada yang bisa bantu jelaskan kenapa akhirnya dipilih judul Pop Corn, selain agar lebih gampang dimengerti oleh orang Indonesia, tentunya? Yang lebih jelas, gitu.

Beberapa kalimat percakapan di komik ini ada yang membingungkan. Entahlah, saya merasa ada beberapa yang tidak pas aja dengan ekspresi atau konteks yang sedang dibicarakan. Saya juga tidak bisa mengecek lebih lanjut karena kalau pun ada dengan bahasa aslinya, yang ada malah saya bisa makin bingung karena mumet sama bahasanya.

Soal gambarnya, terus terang saja,seperti yang saya sebut sebelumnya, saya rasa ada beberapa adegan yang digambarkan terlalu heboh dan jadinya malah bikin saya pengen cepet-cepet membalik tiap halaman dengan sangat cepat.

Karakter favorit saya dari buku ini adalah Papa-nya Nakki! Lucu banget ngeliat reaksi beliau saat Nakki akhirnya belajar mobil. Terus saat Nakki memutuskan beli mobil. Juga saat Okita dan Iwasaki datang kepadanya. Beliau berhasil bikin saya tersenyum, terharu dan terinspirasi.

Sayang, sayang sekali akhir dari seri ini menurut saya sedikit tanggung dan tidak sesuai ekspetasi. Kalau dari sisi ekstrim, menurut saya, ini sudah tamat dari volume 19. Hiks! Eh,tapi, jangankan saya, bahkan penulisnya sendiri mengalami hiatus cukup panjang lho, dari volume 19 ke no 20.

Setelah menamatkan buku ini pun, saya terkena book hangover. Masih gagal move-on. Malas-malasan ngeliat buku lain. Kebayangnya cuma, “Oh Okita..”

Okay, saya memang sedikit lebay. Tapi kalian harus coba baca ini, apalagi yang senang dengan cerita berseri tentang persahabatan. Sudah ada edisi deluxe-nya lho! Jangan lupa juga beli side story-nya, “Okita in Memory” 😉

PicsArt_1385626287168

Lots of Love, ♥ ZP ♥

10 thoughts on “Book Review – Pop Corn [1-26]

  1. Haa komik pertama yang aku ikutin. Nama tokoh2nya tuh: Kitashiro Naoko, Iwasaki Hajime, Satsukino Maiko, Tamura Ryoichi, Konishi Hatsune, dan Okita Narutoshi. Hehe. Apal, soalnya jaman aku baca ini aku belum ngikutin komik lain, baru setelah itu mulai baca Candy-candy sama Mari-chan. Tapi tetep lah paling suka Pop Corn. Sayang menurutku makin bertambah volumenya gambarnya makin jelek, mukanya makin mencong2. Ya gak siih? Si Nakkin-ya juga udah ga seasyik dulu pas masih mudaan.
    Aku suka Bando!! Muridnya Nakki yang kepala gank yang taunya punya kakak cewek semua dan nyokap yang jago karate. Itu kocak bangett..
    Sayang komik-komiknya sekarang udah entah kemana dan di website online kok terjemahannya ga maju-maju.. Pengen baca lagi, tapi males beli soalnya udah mahal. Dulu cuma Rp. 3000 sebuku.

    Like

    1. Huahh, iya sih, makin deket akhir malah makin kaku gambarny. Apa jangan2 penulisnya juga males setelah okita meninggal? #tetep Kemaren beli buku ini di ibf. Dapet 200rb se-set. Mayan mahal sih, tapi penasaran banget. Eh tapi ada deluxe nya, eh tapi mahal #labil

      Like

  2. Seri ini (dan Candy Candy & Pansy) yang dulu mengawali perkenalanku dengan manga. Sempet nangis2 bombay waktu Okita-nya meninggal. Waktu seri itu belum terlalu suka sama si chibi alias Iwasaki sih. Tapi akhirnya suka juga setelah Iwasaki harus keluar dari kompetisi basket pro gara-gara cedera matanya itu… *terharu*

    Endingnya terlalu didramatisir ga?!? Mosok dua-duanya jadi guru gitu, plus si Nakki gugup pas upacara penerimaan. Tapi aku tetep suka kok. Cinta pertamaku pada manga! ^_^

    Like

    1. Aku kayak nakki, suka dua duanha #maruk Tapi tetep aja jeduk2 tembok pas Okita mati, huhuhu.. Iya endingnya aneh. Kok bisa sepakat nikah tp gak tau kerja dimana, huehehe. Iya, aku juga ngerasa ini tetep cute. Disimpen! ^^

      Like

  3. setiap kali teringat akan komik ini, tetaaaap aja masih ada rasa ngga rela karena si okita dibuat meninggal 😥 tapi ini emang salah satu komik yang otree ceritanya 😀

    Like

  4. woah kaget juga ternyata buku ini udah ada sebelum aku lahir… sejujurnya waktu baca review ini saya jadi teringat waktu masih SD hobi banget rental komik di deket rumah, sejak SMP sampe sekarang jarang sentuh komik lagi, udah beralih ke novel sih. Tapi kayaknya sekali-kali jadi kangen baca komik lagi hehehehe 🙂

    Like

    1. Iya, rental komik itu seperti surga banget waktu jaman saya SD.
      Paling suka pinjem Sentaro, hehe..
      Beli komik mahal sih ya, mendingan beli novel. Tapi sedang tertarik beli komik lagi sih, hehe 😀

      Like

  5. lisa

    komik ini…
    aku jatuh cinta sama karakter okita narutoshi..
    sifatnya yg cool, gak terlalu byk ngmong tp cepat bertindak..
    tapi..
    aku patah hati..
    knapa si okita dibikin jadi mati??? 😥 so sad..
    ampe bengkak mataku nangis karna itu..
    kesal sama yoko shoji…

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s