Book Review – Pergi untuk Dapat Kembali

Judul: Pergi

Penulis: Olivia Elena Hakim

Desain Cover: Hartanto Triwibowo

Ilustrasi: Olivia Elena Hakim

Penerbit: PT Wortel Books Publishing

Tebal: 457 hlm.

ISBN: 978-1349-34-5

Cetakan pertama, Oktober 2010

Seberapa jauh orang bisa melarikan diri dari masalah? Bagiku jawabannya 400 kilometer. Itulah jarak yang kutempuh untuk meninggalkan segalanya: keluarga, kuliah, serta kota kelahiranku. Tanpa kuduga, kota kecil yang menjadi pelarian, menawarkan lebih dari yang kuminta.

Purbalingga tak hanya memberi persembunyian dan perlindungan, tapi juga membuatku tertawa, menangis, dan memikirkan ulang apa yang sesungguhnya telah terjadi dalam hidupku.
Kepergian ini mempertemukanku dengan … Diriku Sendiri.

Dimulai dengan adegan Kezia mempersiapkan perjalanan seorang dirinya yang pertama, saya sempat dibuat bingung dengan cara penulisan (awalnya saya sebut layout, tapi sepertinya salah, entahlah tepatnya apa) di buku ini.

Seperti, saya bingung apakah Kezia sedang bicara dengan dirinya sendiri atau sedang berbicara dengan temannya dalam memori. Apakah Kezia sedang merenung atau sedang SMS-an. Kalau kata Elise, saya saja yang tidak terbiasa. Well, maybe. Saya memang agak ‘konvensional’ soal bacaan.

Kembali ke novel Pergi. Bercerita tentang liburan yang dilakukan Kezia di kota Purbalingga, tempat tante dan om-nya tinggal. Seperti yang sebelumnya saya sebut, ini adalah pertama kalinya Kezia diberi kesempatan untuk pergi seorang diri.

Kezia tentu saja girang sekaligus gugup. Sebagai ‘anak kota’, rasanya menyenangkan bisa pergi ke kota yang begitu tenang. Kota yang hangat, tenang dan benar-benar terasa seperti ‘rumah’.

Awal dia tiba di Purbalingga memang tidak begitu menyenangkan. Seorang cowok dengan tampang mencurigakan muncul mengaku sebagai orang yang disuruh om Kezia jemput karena mendadak sibuk. Kezia tentu tidak bisa percaya begitu saja. Apalagi mengingat bahwa om Kezia nampaknya adalah orang cukup terpandang di daerahnya. Jangan-jangan, Kezia mau diculik!

Segera saja Kezia kabur dan untunglah, dia bisa tiba di rumah om dan tantenya dengan selamat. Bertemu dengan Om dan Tantenya yang ramah, Iyo sepupu kecilnya yang lucu, juga Adrian, sepupunya yang sedikit aneh karena terlalu diam.

Ternyata, Kezia bertemu lagi dengan cowok bertampang preman yang tadi hendak menculiknya. Setelah adegan menenangkan dengan melibatkan golok dan teflon, akhirnya terungkap bahwa cowok itu bernama Elang, anak dari temannya tante Rosa, tantenya Kezia.

Segera saja Kezia malu dan menyesal karena telah salah menilai Elang. Untunglah, Elang tidak mendendam dan malah selanjutnya, Elang terbukti tidak ‘semenyeramkan’ tampangnya. Dia adalah teman yang menyenangkan. Bisa menemani Kezia, lumayan untuk menggantikan Zaskia, teman baik Kezia, yang tidak ikut ke Purbalingga.

Juga, kesibukanya menjelajah kota bersama Elang bisa membuatnya lupa -setidaknya sejenak- akan Radit, cowok yang menjadi alasan Kezia ingin pergi ke Purbalingga.

Saya meminjam buku ini dari teman saya, Elise, sejak beberapa bulan yang lalu dan selalu menunda membacanya. Saat akhirnya ‘terdesak’ untuk mengembalikan buku tersebut, ternyata saya bisa selesai baca hanya dalam waktu satu hari, atau sekitar 3 jam.

Saya suka dengan ide cerita novel ini. Twist yang sedikit tidak tertebak (iya, saya mau sombong aja kalau saya udah nebak dikit konfliknya akan kayak apa) dan ending yang, well..bolehlah, bikin saya menutup buku ini dengan perasaan biasa aja. Enggak gondok, enggak senyum-senyum. Pokoknya, okay aja.

Oh ya, saya sedikit tidak mengerti kenapa harus diceritakan mengenai Zaskia juga. Mungkin ada hubungannya dengan ending, tapi..tetap saja, saya merasa kok jadinya tanggung. Dia seperti pemeran pembantu yang jadinya mau ngerebut spotlight dari tokoh utama. Kalau saja dari awal memang dibuat lebih kuat lagi peran Zaskia, mungkin akan lebih bagus.

Kalimat yang saya suka dari buku ini adalah,

“Menangislah saat kamu perlu dan tertawalah pada saatnya. Itu akan menjaga kamu tetap waras.” -hlm.445

Yap, sudah hampir di bagian akhir saya baru nemu kalimat yang rasanya, “Wah,ini nih!” Tapi sekalinya nemu, rasanya suka banget deh. Mungkin akan saya tambahkan ke dalam quote favorit sepanjang masa 🙂

Terus, saya suka banget sama Adrian! Ya, di luar fobia dia yang berlebihan itu, saya rasa tuh dia punya kepribadian yang sangat lovable dan pengen saya cubitin rasanya #eh

Enaknya sih baca buku ini saat sedang mempersiapkan liburan sendirian. Pasti jadi ngiri dengan perjalanan sendirian yang dilakukan oleh Kezia. Jalan-jalan di kota sepi, menikmati pemandangan sendirian, jepret-jepret, ketemu cowok ganteng.. #tetep

Novel ini juga memberi pencerahan, seperti yang disebut di book blurb, bahwa terkadang kepergian akan mempertemukan kita dengan diri kita sendiri. Siapkah kamu pergi untuk dapat kembali?

Lots of Love, ♥ ZP ♥

6 thoughts on “Book Review – Pergi untuk Dapat Kembali

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s