[Book Review] Kisah Depresi si Despereaux

Judul: The Tale of Despereaux – Kisah Despereaux

Penulis: Kate DiCamillo

Alih bahasa: Diniarty Pandua

Tebal: 272 hlm.

ISBN: 978-979-22-11-849

Cetakan kedua, Maret 2005

Blurb:

Ini kisah tentang Despereaux Tilling, tikus kastil yang jatuh cinta pada musik, cerita-cerita, dan putri bernama Pea. Ini juga kisah tentang tikus got bernama Roscuro, yang hidup dalam kegelapan namun sangat menyukai dunia yang dipenuhi cahaya. Dan ini kisah tentang Miggery Sow, gadis pelayan berotak lamban yang memiliki satu harapan yang sederhana tapi mustahil.

Tokoh-tokoh ini akan melakukan perjalanan yang membawa mereka turun ke ruang tahanan bawah tanah yang mengerikan, naik ke kastil yang gemerlapan, dan akhirnya, ke dalam kehidupan mereka masing-masing. Dan apa yang terjadi saat itu?

Pembaca, kau ditakdirkan untuk mencari tahu.

Membaca buku ini seolah mengingatkan saya pada cerita anak yang sering saya baca sewaktu saya masih kecil. Membaca buku ini, saya terbawa kembali ke hampir dua puluh tahun yang lalu (astaga,tenyata saya segitu tuanya!). Tepatnya saat membaca cerita Bona dan Rong-rong atau Bobo sekeluarga di majalah Bobo. Ya, mungkin saya aneh mengingat hubungannya hanya sama-sama fabel, tapi percayalah, saya benar merasa seperti itu.

update nyempil -> habis blogwalking ke blog Joo, baru ingat kalau saya lupa menyebutkan kalau saya baca kisah ini bersama tiga rekan BBI yang lainnya, silahkan lihat review mereka juga ya : Joo , Kak SiroKak Lina dan juga ada Kak Asriani yang ternyata membaca buku yang sama ^^

Kisah ini terbagi menjadi empat bagian dan mengambil sudut pandang dari tiga orang yang berbeda. Mereka terhubung oleh satu hal, yaitu terlahir berbeda dan memiliki mimpi yang disebut mustahil oleh lingkungan atau siapa pun yang mendengarnya.

Oh ya, mereka juga disatukan oleh kenyataan bahwa mereka akhirnya akan bertemu dan berhubungan satu sama lain, lewat rentetan peristiwa yang terjadi di dalam kastil sebuah kerajaan.

Yang pertama adalah Desperaux, tikus kecil mungil dengan telinga yang besar. Dari awal kelahirannya, dia sudah berbeda. Tidak seperti tikus lain, dia membuka mata saat baru lahir. Tidak seperti kakaknya, Merlot, yang gemar menggigiti buku, Desperaux senang membaca buku. Alih-alih menerima dan mendukung atau setidaknya memaklumi, keluarga Despereaux malah cenderung menjadi jijik dan menganggap dia sebagai pembawa celaka, masalah, atau apapun itu!

Yang kedua adalah Roscuro. Tikus got yang seharusnya mencintai kegelapan namun sebaliknya, terobsesi dengan cahaya. Rasa penasaran membawa dia naik ke atas, melihat cahaya yang begitu didambakannya. Hanya sebentar, hanya memuaskan rasa ingin tahunya, tapi mengubah hidupnya selamanya.

Yang ketiga adalah Miggery Sow, seorang gadis yang bisa dibilang tidak mengenal apa itu kasih sayang. Yang tidak pernah tahu rasanya didengarkan. Yang bermimpi menjadi putri, namun tidak memenuhi kriterianya -sedikit pun.

Setelah saya menutup buku ini, yang paling pertama terlintas di benak saya adalah, “Ah.. andai saja saya sudah membaca buku ini sejak saya masih kecil.” Kemudian, saya bertekad untuk membuat keponakan saya membaca ini, segera setelah mereka bisa dan ‘kuat’ membaca buku yang cukup tebal seperti ini.

Bisa dibilang, kalau Despereaux adalah tokoh favorit saya di buku ini walau saya tidak suka juga dengan pemikiran konyolnya,jatuh cinta dengan seorang putri padahal dia tikus. Tapi saya suka dengan keberaniannya untuk menjadi berbeda, mengemukakan pendapat dan juga mengobati hatinya sendiri dengan cara memaafkan 🙂

Itu juga berkaitan kalimat favorit saya di buku ini,

“…maaf adalah sesuatu yang sangat mirip harapan dan cinta, sesuatu yang kuat dan indah. Dan juga konyol.” -hlm. 212-213

Secara terjemahan, menurut saya oke. Tapi tetap saja, saya penasaran ingin membaca dalam versi asli karena ada juga beberapa percakapan yang sepertinya ‘menggantung’. Oh ya, yang enggak asyiknya juga, ilustrasinya buram dan suram, jadi enggak enak dilihat.

Tetap saja, seperti yang saya sebutkan di awal, buku ini sangat menyenangkan dibaca untuk anak-anak, bahkan oleh dewasa. Mengenai adakah keceriaan di dalam buku ini, sayangnya tidak -tidak cukup banyak. Mirip kisah Cinderella, Putri Tidur, mungkin lebih sedikit masuk akal (pendapat pribadi, sih).

Nah, siapkah kamu membaca kisah depresi ini? Mungkin, kamu juga akan belajar menghargai hidup yang kamu punya karena hidupmu, atau rupamu, atau keluargamu tidaklah seburuk yang dikisahkan di sini.

Cheers!

Book-admirer ♥

Collage 2014-01-24 21_04_16-1

Collage 2014-01-27 07_56_34

26 thoughts on “[Book Review] Kisah Depresi si Despereaux

  1. Kalau baca kisah tentang tikus saya jadi inget Ratatoille yaitu tikus yang bermimpi menjadi koki restauran. Alih2 mendukung, banyak yang mencibir niatnya. Sama halnya dengan Desperaux yang dikucilkan karena mimpinya yang tidak biasa. Review mbak membuat saya jadi tertarik baca buku ini. Saya ingin tahu gimana mereka yang depresi dan dikucilkan bisa mencapai mimpi2nya. Semoga bulan ini bisa baca buku ini 🙂

    Good review 😀

    Like

  2. Cerita anak-anak masih bisa dibaca oleh orang dewasa, tapi cerita dewasa belum tentu bisa dibaca oleh anak-anak.. Tapi baca review ini sepertinya ceritanya asik, banyak pembelajraannya juga, menarik 😀

    Like

      1. Setahuku Ratatouille murni film, tidak diadaptasi dari buku deh. Tapi tidak tahu juga, mengingat kesuksesan filmnya, kalau dibikin adaptasi bukunya. Seperti semisal novel Griffin’s Story karya Steven Gould, Griffin tidak ada di novel Jumper tapi diadaptasi filmnya karakter itu ada dan jauh mencuri perhatian ketimbang tokoh utamanya, jadinya si penulis lalu membuat tulisan tentang si Griffin itu.

        *err ini kenapa jadi… melantur kemana-mana ya? (-_-“)

        Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s