[Book Review] Bliss

bookbliss

Title: Bliss

Author: Kathryn Littlewood

Publisher: Noura Books

Paperback, 320 pages

Publication date: February 14, 2012

ISBN-13: 978-979-433-69-08

Language: Indonesian

Genre: Juvenile

Rec. age to read: Above 10 y.o

Source: Beli di TB. Gramedia Grand Indonesia

Price: Rp 49.500

Synopsis:

Musim panas itu, Rosemary Bliss melihat ibunya mengaduk halilintar ke dalam semangkuk adonan dan semakin yakin bahwa orangtuanya menggunakan sihir di Toko Roti Bliss. Rahasianya ada pada sebuah buku resep Bliss Cookery Booke.

Namun, apa jadinya jika Rose dan Ty memutuskan bereksperimen denga beberapa resep saat orangtua mereka pergi? Yah, beberapa Muffin Asmara dan Cookies Kebenaran sepertinya tak akan menimbulkan masalah, bukan?


Pertama kali saya melihat buku ini, yang berada di pikiran saya adalah, “SUKA!”

Ilustrasi cover yang oke, pinggiran kertas berwarna biru muda mengkilat, sinopsis yang menarik, tema kuliner, genre children fiction, saya jelas punya harapan tinggi untuk buku ini.

Bercerita tentang rentetan peristiwa yang harus dihadapi oleh Rose, si anak kedua dari keluarga Bliss. Ayah dan ibunya harus pergi selama seminggu. Jadilah Rose diberi tanggung jawab untuk menjaga kelangsungan toko roti mereka. Rose juga diberikan kunci yang dia sangat yakin merupakan bagian penting dari toko dan tidak boleh berpindah tangan secara sembarangan.

Sebenarnya, Rose tidak sendirian. Dia akan ditemani saudara-saudaranya; Ty, Sage dan Leigh. Juga ada Chip, yang memang selalu membantu orangtua Rose di toko. Untuk menjaga Leigh yang masih balita pun, ada Mrs. Carlson yang membantu. Sayangnya, masing-masing dari mereka tidak terlalu bisa diandalkan.

Rose merasa dialah yang paling dewasa dan bertanggung jawab untuk semua. Walau, dia bisa juga menjadi seperti gadis remaja yang ‘bodoh’ saat bertemu dengan Devin, anak dari pemilik Toko Donat dan Bengkel Stetson.

Suatu hari, datang seorang wanita bernama Lily yang mengaku sebagai bibi mereka. Lily dengan cepat berhasil menarik perhatian seluruh keluarga, bahkan hampir setiap orang yang ditemui. Rose sendiri merasa bahwa Lily adalah wanita yang memukau.

Tapi, entah kenapa, Rose merasa ada yang disembunyikan oleh Lily. Sepertinya ada hubungan dengan buku resep rahasia yang tersimpan dengan rapat oleh kedua orangtua Rose.

Oh ya, sudahkah saya sebutkan bahwa Rose sendiri selalu curiga orangtuanya menggunakan sihir saat membuat kue/roti? Nah, silahkan mencari tahu bersama Rose apakah itu benar, dengan cara membaca buku ini.

Secara jujur, saya tidak menyangka bahwa saya akan merasa bosan saat membaca buku ini. Seperti yang sudah saya ceritakan di dalam Dare to Say [4], saya merasa penjelasan di buku ini sering bertele-tele.

Rasanya seperti memesan lemonade tapi terlalu banyak gula dan air yang dicampurkan. Aneh. Enggak cocok. Bikin enggak pengen minum lebih banyak.

Terus, yang paling menggangu buat saya ada dua:

  1. Saat Lily bisa nebak kalau yang muncul adalah Rose alias Rosemary. Berarti, mengingat Rose adalah anak kedua, mustinya Lily tahu setidaknya sampai anak kedua. Tapi, berikutnya, Lily bilang kalau dia taunya Purdy (ibu Rose) baru punya satu anak. Eh?

  2. Saat memerlukan nafas dari orang yang tidak pernah berbohong, Rose dan Ty sepakat bahwa Leigh tidak pernah berbohong karena berbicara saja tidak bisa. Tapi, nyatanya dia bisa kok, apalagi menjelang akhir, setelah dia ikut makan Cookies-Kebenaran.

Selain yang enggak saya suka, tentu ada juga bagian yang suka. Saya suka saat Mr.Bastable memanjat puncak Menara Eiffel tiruan di depan kafe milik Pierre Guillaume. Bagaimana dia mencurahkan seluruh perasaan dengan penuh semangat. Lucu dan saya malah jadi senyum-senyum sendiri bacanya.

Dan adegan ‘perbaikan’ yang terjadi pada Mr.Bastable, bagaimana dia duduk di depan toko roti juga sangat menggugah saya. It just..so sweet! Semakin membuat saya yakin untuk mengesahkan beliau sebagai tokoh kesukaan saya di dalam buku ini.

Oh ya, saya kasih sedikit spoiler deh untuk memberi gambaran kenapa saya suka banget sama beliau:

Mr. Bastable menggeleng-geleng. “Tidak, sampai wanita kesayanganku bersedia menjadi istri kesayanganku!”

Hmmm.. Tidakkah para wanita yang lain akan menganggap ini adalah suatu hal yang manis? Tentunya kalau diucapkan oleh lelaki yang tepat dan tidak menyia-nyiakan cintamu sebelumnya. Yah, jangan dibawah sihir juga sih bukan curcol

Ah.. Harus baca deh untuk lihat adegan terakhirnya, yang manis banget dan bikin saya mesem-mesem sendiri.

Ada juga kalimat lain yang saya suka dari buku ini:

Sambil bertanya-tanya kenapa dia tak bisa mejadi keduanya –gadis yang pandai dalam matematika sekaligus berparas cantik– (hlm. 19)

Ada sebuah keajaiban di antara kedua sejoli itu… Yang ada hanyalah keajaiban dalam diri seseorang untuk mau berubah, berkembang, dan menyembuhkan diri, tanpa bantuan sihir sama sekali (hlm. 275)

Hal menarik yang bisa saya dapatkan dari buku ini adalah kamu harus berani menjadi dirimu sendiri. Apalagi saat berusaha mewujudkan impian, termasuk soal cinta. Tidak ada gunanya menjadi orang lain saat berusaha mendapatkan perhatian orang lain. Hmm, terlalu berusaha juga tidak baik, kok.

Overall, saya suka aja tapi enggak gitu minat beli buku keduanya. Kalau kebetulan diskon atau dapet pinjaman, mungkin boleh.

Baca juga review dari teman-teman BBI yang lain untuk buku ini, ya:

Non Inge @ Bacaan Inge

Kak Lila @ My Book Corner

Hani @ Sudut Buku Hani

Kak Vina @ Mari Ngomongin Buku

Kak Lina @ Let Me Tell You a Story

Cheers!

book-admirer signature-1

Collage 2014-01-24 21_07_40-1

photo 1 (4)

8 thoughts on “[Book Review] Bliss

  1. renpuspita

    Aku dulu pas suamiku pertama bilang “ntar kamu jadi istriku ya”, aku sumpah takut banget Chei. Eh, setelahnya malah aku ngomel kenapa ngga dilamar2 X))

    Aku dulu juga suka sama kemasannya Bliss ini, tapi habis beberapa bab, rasanya ceritanya kok anak – anak banget. Aku ga suka sama Rosenya 😦

    Like

    1. Huahah, padahal itu lamaran yang sudah malah lebih dulu disampaikan, ya xD
      Iya, kemasannya menarik banget, tapi sayang..terlalu gimana gitu, enggak sesuai ekspetasi sih kalau aku 😛
      Dan bener, sebel banget sama Rose yang plin-plan, insecure dan labil x(

      Like

  2. Pingback: Yummy Story ≠ Yummy Title | Book-admirer

  3. Pingback: [Buku Jalan-jalan #8] A Dash of Magic | Book-admirer

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s