[Book Review] The Reptile Room

photo 2

Title: The Reptile Room (An Unfortunate Event #2)

Author: Lemony Snicket (pen name of Daniel Handler)

Illustration: Brett Helquist

Publisher: HarperCollins Children’s Books

Hardcover, 192 pages

Publication date: May 26th, 2003

ISBN-13: 978-1405-208-680

Language: English

Genre: Children fiction, Adventure

Rec. age to read: Above 12 y.o

Source: Titip Kak B.Zee yang nitipin ke Kak Dinoy yang kemudian nitipin lagi ke Joo (penting ditulis xD)

Price: Rp 50.000 (bargain price)

Book blurb:

Dear Reader,

If you have picked up this book with the hope of finding a simple and cheery tale, I’m afraid you have picked up the wrong book altogether. the story may seem cheery at first, when the Baudelaire children spend time in the company of some interesting reptiles and a giddy uncle, but don’t be fooled. If you know anything at all about the unlucky Baudelaire children, you already know that even pleasant events lead down the same road to misery.

In fact, within the pages you now hold in your hands, the three siblings endure a car accident, a terrible smell, a deadly serpent, a long knife, a large brass reading lamp, and the re-appearance of a person they’d hoped never to see again.

I am bound to record these tragic events, but you are free to put this book back on the shelf and seek something lighter.

With all due respect,
Lemony Snicket.

Kisah dimulai dengan perjalanan Violet, Klaus dan Sunny Baudelaire (saya diam-diam bersyukur, yang ribet cuma nama belakang mereka) bersama dengan Mr. Poe, pengelola keuangan keluarga mereka yang bertugas menjamin Baudelaire bersaudara tinggal bersama dengan relasi terdekat mereka yang dapat diandalkan.

Kebakaran rumah telah menyebabkan mereka kehilangan bukan hanya rumah, melainkan sekaligus orangtua mereka. Tidak ada sisa. Mereka harus tinggal dengan kerabat mereka sampai Violet, yang paling tua, sudah cukup umur untuk mendapatkan warisan mereka.

Ketiga anak tersebut tentu tidak memiliki ekspetasi tinggi selama perjalanan bersama Mr. Poe kali ini karena mereka masih trauma dengan Count Olaf yang berambisi menguasa harta warisan mereka.

Oh ya, untuk yang belum pernah membaca buku pertama, mungkin bingung, siapa itu Count Olaf? Count Olaf adalah orang yang awalnya dipilih Mr. Poe untuk menjaga Baudelaire bersaudara. Selain tersiksa secara fisik, mereka juga tersiksa secara batin. Bayangkan, bahkan Count Olaf sudah berencana menjebak Violet agar menikah dengannya! Ewww…

Meski demikian, jangan khawatir, tidak membaca buku pertama dan langsung loncat baca buku kedua tidak terlalu masalah. Lemony Snicket tidak keberatan untuk menyinggung cerita sebelumnya sehingga kita tidak terlalu kebingungan atau ketinggalan cerita.

Kembali ke cerita.  Saat Violet, Klaus dan Sunny tiba di rumah kerabat mereka, segera saja mereka merasa shock. Di bagian luar rumah tersebut banyak sekali hiasan berbentuk ular. Langsung terbayang masa lalu yang buruk bersama Count Olaf dan mereka merasa ngeri.

Eh, ternyata, ketakutan mereka adalah percuma. Dr. Montgomery Montgomery (yep, his name is that weird!) ternyata adalah orang yang sangat menyenangkan, penyayang dan sangat mengerti mereka! Uncle Monty -dia meminta Baudelaire bersaudara memanggilnya begitu, sangat memanjakan tiap dari mereka.

Uncle Monty sedang merencanakan perjalanan ke Peru. Tentu, bersama dengan ketiga anak tersebut! Tugas pun sudah dibagi.

Violet, yang tertua, diberi tugas untuk mempelajari segala urusan teknis karena dia memang senang dengan mesin-mesin, baik alat sederhana maupun yang kompleks. Klaus senang membaca buku sehingga diberi tugas membaca semua buku tentang ular. Sunny, si kecil yang senang menggigit, diberi tugas menggigit potongan tali untuk jadi kecil-kecil.

Seperti yang terus dan terus dan terus dan terus dan terus diingatkan oleh Lemony Snicket, kisah ini tidak akan berakhir bahagia. Jadi, singkirkan saja harapan bahwa mereka akan terus bahagia.

Oh ya, kalau kamu terganggu dengan pengulangan “dan terus” yang saya lakukan, itu enggak lebay, menurut saya. Lemony Snicket seolah menganggap pembacanya tuh punya ingatan seperti Dory di Finding Nemo yang bisa lupa dalam waktu 5menit.

Meski demikian, saya rasa kalau saya mendengarkan dia bercerita (tentu saya membayangkan suara si pencerita adalah suara yang sangat menyenangkan untuk didengar,bukan cempreng kayak suara saya) secara langsung, saya cukup yakin akan terdengar menyenangkan.

Membayangkan bahwa penulis akan bercerita dengan mimik dan gestur yang seru, saya akan senang mendengarkan dongeng sebelum tidur ini. Meski, kisahnya tidaklah happy ending. Justru, itu salah satu kekuatan novel ini, menurut saya.

Hey, serius deh, emangnya masih percaya soal “happily ever after“? Huft~ Saya sih mendingan realistis aja. Bahkan kisah yang menyedihkan jauh lebih masuk akal, menurut saya *mulai sinis deh

Kembali ke soal cara penceritaan, saya bosen aja bacanya. Saya secara jujur mengakui kalau alasan utama saya menyelesaikan buku ini dalam waktu (insert drum roll here) 2 jam saja adalah karena saya bosan menunggu busway dan karena saya pernah membaca buku ini sebelumnya, dalam versi bahasa Indonesia sehingga saya tahu kelanjutannya. Dan saya pengen baca itu lagi.

Saya senang mengingat kembali masa-masa bahagia yang dirasakan oleh Violet, Klaus dan Sunny. Saya ikut terharu saat Violet mengingat malam saat dia menonton bioskop bersama Uncle Monty, Klaus dan Sunny -ah ya, dan Stephano. Bikin mewek, huhuhuhu.

Sukakah saya dengan versi bahasa Indonesia yang saya baca sebelumnya? Nah itu, saya baca saat saya masih SMP, sih. Saya suka banget dan pengen koleksi satu set tapi mahal banget menurut saya, saat itu. Ya namanya aja masih SMP. Saya aja bacanya cuma modal minjem temen. *terus inget-inget, udah balikin atau belum ya? *ditabok

Haduh, saya jadi mirip sama Lemony Snicket yang bawel deh *tarik napas panjang *tutup muka

Karakter yang paling suka di cerita ini adalah Klaus. Yap, apalagi alasannya kalau bukan karena dia adalah kutu buku yang gosipnya sudah membaca buku lebih banyak dari siapa pun di dunia ini. Lebay-nya kamu, om Lemon! *ditoyor

Klaus sangat suka membaca buku dan sering (bahkan mungkin selalu) ditemukan masih memegang buku saat pagi hari. Iya, tentunya sudah ketiduran, masa dia enggak tidur semaleman? *mulai bawel lagi.

Ada beberapa adegan yang menyentuh buat saya, dan rasanya tidak akan spoiler karena berkali-kali Lemony Snicket sudah memberi tahu apa yang akan terjadi pada Uncle Monty, bahkan saat cerita baru dimulai. Trust me.

“Divo soom?” Sunny asked, and tugged at his pants leg. Uncle Monty did not move. As he had promised, no harm had come to the Baudelaire orphans in the Reptile Room, but great harm had come to Uncle Monty. – pg. 90

…but she was too lost in her own thoughts to care. She was remembering the last conversation she and her siblings had had with Uncle Monty, and thinking with a cold rush of shame that it hadn’t really been a conversation at all. -pg. 94-95

Daripada saya bawel lebih lagi, saya langsung aja kasih tau quote favorit saya dari buku ini ya:

We all know that our time in this world is limited, and that eventually all of us will end up underneath some sheet, never to wake up. And yet it is always a surprise when it happens to someone we know. – pg. 96

Bisa disimpulkan dengan mudah bahwa hal menarik dan paling berkesan buat saya dari buku ini adalah, agar kita selalu dan selalu mengucapkan dan meyakinkan orang yang kita sayang bahwa kita sangat menyayanginya.

#NowPlaying – If Tomorrow Never Comes  – Ronan Keating

‘Cause I’ve lost loved ones in my life

Who never knew how much I loved them

Now I live with the regret

That my true feelings for them never were revealed

So I made a promise to myself

To say each day how much she means to me

And avoid that circumstance

Where there’s no second chance to tell her how I feel

Cukup yakin bahwa itu yang dirasakan oleh (setidaknya) Klaus. Kalau Violet dan Sunny sedikit enggak cocok sih karena membicarakan soal “her”, tapi..okay, enggak usah terlalu dipikirin juga sih sebenernya.

Jadi, apakah hari ini kamu sudah memberitahu orang yang kamu sayang, seberapa besar arti mereka dalam hidupmu?

Cheers!

book-admirer signature-1

Collage 2014-01-24 21_07_40-1

photo 4

4 thoughts on “[Book Review] The Reptile Room

  1. Pingback: Dare to Say! [6] | Me: Book-admirer

  2. Pingback: Children’s Literature Reading Project | Book-admirer

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s