[LPM] ASEAN Literary Festival 2014 Day 2

Hi there!

Terus terang, saat teman-teman di BBI memperbincangkan acara ini, saya tidak tertarik untuk datang karena lokasi yang jauh, Taman Ismail Marzuki. Iyalah jauh, secara saya kan tinggal di Jakarta Barat, nyaris Tangerang pula.

Pergi ke Taman Ismail Marzuki pun terakhir kali saya lakukan saat masih SD. Enggak mungkin kan saya inget arah jalan kesana? Makin nambah persoalan.

Begitu saya tahu kalau Clara Ng mengisi salah satu sesi yang bertema “Children Literature: A Quest for Identity”, saya langsung membulatkan tekad untuk datang.

Dan akhirnya, sekitar jam 2 siang saya sampai di tempat acara tanpa banyak kesulitan karena saya dibantu oleh Waze, yeay! *bukan promosi berbayar

Saya langsung saja mencari ‘korban’ yang bisa menemani saya selagi menunggu jam 3 tiba. Iya, menunggu sesi Clara Ng.

Untungnya, ada Selvi di sana šŸ˜€ *joget-joget kegirangan *bukan goyang itik *dipelototin Selvi

Selvi sedang mangkal bertugas di booth Goodreads Indonesia. Tidak sendirian, dia bersama dengan Kak Ayu, rekan GRI juga.

Anyway, sebelumnya saya minta maaf ya karena saya ternyata tidak banyak foto-foto selama acara tersebut. Malah bisa dibilang saya enggak foto apa-apa >,<

Jadi, semua foto yang ada di post ini adalah hasil cabutan dari twitter atau website event tersebut.

Lanjut ke acara. Hari itu matahari sangat ramah. Proses tanning berlangsung lancar karena saya mengenakan kemeja hitam lengan panjang. Berhubung booth Goodreads Indonesia (GRI) adalah spot yang sangat disayang oleh matahari, saya segera melipir. Cari adem di tempat lain, malah ketemu perokok di mana-mana. Hmph!

Iseng, saya akhirnya coba untuk ikutan diskusi yang diselenggarakan di dalam gedung kaca. Iya, booth GRI dan juga booth yang lainnya (termasuk penerbit) terletak di luar gedung kaca tersebut.

Untuk ikutan diskusi, saya harus register terlebih dahulu. Cukup isi nama, email, no telp dan alamat website/blog. Kesempatan deh buat narsis nulis nama blog sendiri *uhuk

Tema diskusi yang saya pilih saat itu sebenarnya sama sekali bukan minat saya, tapi saya pikir lumayanlah buat dicoba.

Saya hanya berada di dalam ruangan selama sekitar sepuluh menit. Sejujurnya, saya suka dengan pembahasan mereka. Saat saya masuk, sedang membicarakan peran wanita dalam sastra. Hanya saja, saya sepertinya memang harus berpikir ulang sebelum ikutan diskusi dalam bahasa inggris karena banyak yang saya enggak ngerti >,<

Saat keluar dari ruangan, sudah jam 3 sore. Saya pikir, wah sudah mau mulai acara diskusi dengan Clara Ng. Saya belum melihat beliau selama saya kelayapan di sekitaran gedung, tapi saya sudah sempat melihat Arswendo Atmowiloto yang juga menjadi pembicara.

Sekali lagi, saya harus mendaftar untuk ikutan diskusi. Ternyata, saya beruntung dapet hadiah goody bag! Ya iyalah, jadi nomor satu yang daftar xD Temen saya yang ikutan bareng saya juga dapet goody bag.

Isi goody bag: novel (sepertinya random karena saya dan teman dapat novel yang berbeda), notes dan pulpen.

Seharusnya notes dan pulpen itu saya gunakan untuk mencatat selama diskusi ya, tapi saya udah kebanyakan notes. Sayang juga kalau notes cuma sekali dipakai. Mendingan disimpan šŸ˜€

Setelah sekitar tiga puluh menit menunggu, saya bingung kenapa acara tidak juga dimulai. Apa karena sepi? Saat saya datang dan duduk, memang belum banyak kursi yang terisi.

Terus, setelah dicek, ternyata acara dimulai jam 4. Untunglah saya gak ditoyor sama teman saya.

Akhirnya, acara dimulai dengan perkenalan narasumber. Masing-masing ditanya apa yang membuat mereka menulis buku anak dan juga, sedikit perkenalan tentang diri sendiri. Giliran pertama tentu dari yang paling tua šŸ˜€

Jawaban tiap narasumber tidaklah sama (ya iya), tapi ada satu benang merah, yaitu mereka menulis karena mereka memang memiliki keinginan untuk menulis. Saya jadi ingat kata Arswendo, mimpi itu tidak perlu muluk-muluk, yang penting dilakukan yang terbaik. Jadi, menulislah karena memang ingin menulis šŸ™‚

Selesai perkenalan, dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan yang dilemparkan oleh moderator seputar sastra anak. Termasuk, soal buku yang diterbitkan oleh masing-masing narasumber. Saya baru tahu kalau Imung itu karya Arswendo, saya pikir itu karya penulis baru dari PlotPoint. Tertipu cover yang sudah update ._.

Ketiga narasumber punya cara penyampaian yang berbeda tapi menarik. Arswendo menjawab pertanyaan dengan cara yang cenderung sembarangan (in a good way, trust me). Clara menjawab dengan lugas dan terstruktur. Sementara Icha menjawab dengan santai dan sederhana (also, in a good way :D)

Berikut ini foto yang saya comot dari twitter Clara Ng yang Retweet dari akun ASEAN Literary Festival (ribet ya >,<)

Beberapa hal menarik yang saya tangkap dari diskusi ini adalah:

  • Menulis adalah pekerjaan yang paling menyenangkan karena tidak memiliki batasan tertentu. Tidak perlu berdasarkan pengalaman sendiri. Tidak perlu ijazah. Hanya perlu satu, keinginan untuk menulis.
  • Anak, seharusnya, tidak perlu dilibatkan dalam industri buku. Daripada menerbitkan buku, lebih baik apabila sekolah mempunya buletin atau majalah sekolah sendiri yang menampung kreasi anak.
  • Cara paling mudah mendorong anak berimajinasi adalah dengan mendengarkan dan menghargai. Seringkali, kita cenderung menertawakan sehingga membuat anak minder dan membatasi diri.
  • Mencari inspirasi bisa dilakukan di mana saja. Bisa dengan menonton film, mendengarkan lagu, membaca buku. Intinya, melakukan segala kegiatan yang menyenangkan untuk kita.

Sebenarnya, saat mendengarkan diskusi itu, saya sedikit rancu. Apakah sedang membahas tentang children literature atau malah tips menulis? xD Yah, tetap bermanfaat, kok. Walau sebenarnya saya ingin pembahasan lebih mendalam tentang buku anak itu sendiri.

Sepertinya keterbatasan waktu juga yang jadi penyebab. Dua jam itu seharusnya cukup ya, tapi ternyata tidak. Apalagi saat membahas topik yang memang menarik bersama dengan ahlinya šŸ˜€

Selanjutnya, saya akan memberikan beberapa pendapat saya mengenai penyelenggaraan event ASEAN Literary Festival 2014:

  • Melihat daftar pengisi acara dalam event ini tentu saja bikin saya ternganga dan cuma bisa berdecak kagum. Para narasumber untuk diskusi jelas level international, baik secara kualitas karya atau kenegaraan šŸ˜›
  • Sayangnya, booth-booth di sekeliling tempat acara masih “level nasional” dan kurang seru šŸ˜¦ Mengingat judul event ini adalah ASEAN Literary, kenapa tidak ada booth dari negara lain di writer/publisher corner?
  • Booth yang terbatas dan kurang menarik pun membuat pengunjung yang bukan peserta diskusi tidak punya banyak pilihan. Secara jujur, kalau saya bukan pencinta buku, saya tidak akan sampai lima menit berkeliling. Booth yang paling seru buat saya di publisher corner cuma plotpoint. Iya, booth-nya paling luas. Apa karena banyak nyumbang acara ya? Hmm!
  • Booth di bagian writer corner, saat saya datang, seperti ‘terlantarkan’. Selain karena memang di bagian yang disorot matahari, beberapa booth juga tutup. Yang menarik perhatian saya cuma booth GRI dan Indie Book Corner. Nah, ini juga saya bingung. Kenapa Indie Book Corner ada di bagian writer corner tapi nulis buku di publisher corner? Again, hmm..
  • Panitia yang kurang fokus (atau kekurangan orang?) Saat saya bertanya tentang tempat diskusi Children Literature ke salah satu orang yang mengenakan seragam panitia, dia tidak bisa menjawab. Kemudian dia bertanya ke dua rekannya yang juga tidak tahu. Akhirnya orang keempat yang ditanya tahu lokasi tepatnya. Cukup bikin bete, kan?
  • Tentu saja ada yang bagus, yaitu on-time! Mengingat telat sepertinya sudah menjadi budaya, tentu saja on-time adalah kelebihan yang harus diapresiasi šŸ˜€

Semoga saja event ini akan diselenggarakan lagi tahun depan. Enggak sabar pengen dateng lagi! šŸ˜€

Selesai acara, saya jadi kepikiran untuk bikin survey kecil-kecilan, berhubungan dengan buku. Buat yang pengen ikutan survey, silahkan isi google form berikut ini, ya:

Hasil survey tersebut akan saya jadikan bahan untuk menulis artikel, terkait dengan minat baca di Indonesia. Tenang, artikel tersebut hanya akan saya post di blog kok. Bukan untuk tujuan komersil atau apapun. Cuma ingin memuaskan keingintahuan saya aja šŸ˜€

Sebagai bentuk apresiasi, untuk satu orang pemberi komentar menarik akan saya beri hadiah. Yaitu, novel Crush dan notes yang saya dapatkan dari goody bag saat diskusi xD

Periode pengisian survey berhadiah tersebut adalah mulai hari ini (24 Maret 2014) sampai dengan tanggal 25 April 2014. Lewat dari tanggal itu, tentu masih bisa isi survey.

Terus, nanti sudah tidak berhadiah, dong, kalau sudah lewat periode?

Tenang saja, kalau ternyata survey kecil-kecilan ini diikuti oleh 100 orang, saya akan membuat pemilihan babak kedua. Di mana, yang belum beruntung, masih berkesempatan untuk memenangkan di bagian kedua.

Tentunya, 1 orang = 1 entry. Untuk pemenang nantinya juga harus memiliki alamat pengiriman di Indonesia. Ongkos kirim akan ditanggung oleh saya šŸ™‚

Kalau cuma mau ikutan berbagi pendapat juga, silahkan! Bisa pake identitas anonim juga, kok.

Kalau ada pertanyaan seputar survey ini, silahkan tinggalkan di kolom komentar atau tweet ke @miss_zp. Mau tanya soal event ASEAN Literary Festival juga boleh, selama saya bisa jawab pasti saya jawab šŸ˜›

Ditunggu partisipasinya dan semoga bermanfaat.

Cheers!

book-admirer signature-1

7 thoughts on “[LPM] ASEAN Literary Festival 2014 Day 2

  1. Pingback: Wishful Wednesday [41] | Me: Book-admirer

  2. Pingback: Wishful Wednesday [45] | Me: Book-admirer

  3. Pingback: Zelie Petronella

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s