[Book Review] The Boy in the Striped Pajamas

theboyinthestripedpajamas

Title: The Boy in the Striped Pajamas

Author: John Boyne

Publisher: Ember

Paperback, 240 pages

Publication date: April 1st, 2006

ISBN-13: 978-0-385-75153-7

Language: English

Genre: Juvenile

Rec. age to read: Above 12 y.o

Source: Order at OpenTrolley

Price: Rp 108.000 (OpenTrolley, 26 Feb. 2014)

Berlin 1942

When Bruno returns home from school one day, he discovers that his belongings are being packed in crates. His father has received a promotion and the family must move from their home to a new house far far away, where there is no one to play with and nothing to do. A tall fence running alongside stretches as far as the eye can see and cuts him off from the strange people he can see in the distance.

But Bruno longs to be an explorer and decides that there must be more to this desolate new place than meets the eye. While exploring his new environment, he meets another boy whose life and circumstances are very different to his own, and their meeting results in a friendship that has devastating consequences.

Pindah rumah bukanlah hal yang menyenangkan. Bahkan untuk seorang anak yang senang bertualang seperti Bruno.

Bruno, dengan segala keluguannya, awalnya kesal dan tak mengerti kenapa dia harus tinggal di tempat yang tidak semenyenangkan rumahnya yang dulu. Ditambah dengan kenyataan bahwa kakaknya, Gretel, adalah hopeless-case yang tentu tidak bisa diandalkan untuk membuatnya nyaman di tempat baru ini.

Bruno mencari pembenaran dari setiap orang yang dia temukan. Mom, Dad, Gretel, Maria -pelayan yang setia menemani keluarga Bruno, termasuk Pavel -seorang pelayan yang mengaku adalah dokter. Semakin banyak Bruno bertanya, semakin ia kesal karena merasa tidak ada yang bsia mengerti betapa membosankan di ‘Out-With‘, tempat tinggalnya yang baru. Gretel malah terus mengoreksi Bruno kalau tempat mereka tinggal bukanlah ‘Out-With‘.

Sampai akhirnya dia bertemu dengan Shmuel, baru Bruno mulai merasa betah. Rasanya menyenangkan mempunyai teman berbicara di tempat yang suram.

Cuma, Bruno tidak pernah habis pikir. Kenapa mereka berbeda? Kenapa Shmuel mengenakan semacam piyama bergaris? Kenapa Shmuel membenci tentara? Kenapa Shmuel sangat kurus?

Begitu banyak pertanyaan yang muncul, bagaimana Bruno mendapatkan jawabannya?


 

Sesungguhnya saya sudah tahu kalau cerita ini menyedihkan. Kak Bree (book-blogger at Read and Caffeinated) juga sudah bilang pas saya bilang sedang membaca buku ini, sekitar dua minggu yang lalu.

Bab-bab pertama tidak terlalu menyenangkan buat saya, terlalu lambat. Tapi saat sudah mulai bertemu dengan Pavel, saya mulai merasakan keterikatan dengan karakter dan tidak bisa berhenti membaca.

Membaca buku ini, haruslah terlebih dahulu tahu kalau buku ini membicarakan soal Holocaust. Peristiwa mengerikan yang belum lama ini dikenang oleh bangsa Israel, sekitar minggu lalu kalau saya tidak salah.

Diangkat dari perspektif Bruno, anak seorang tentara Nazi, buku ini sangat mewakili keluguan anak-anak. Walau saya memang tidak mengerti juga sih, kenapa Bruno yang suka membaca tidak pernah membaca koran sehingga tahu apa yang sebenarnya terjadi? Atau memang tak diberitakan? Entahlah.

Saya bisa mengerti bangga dan sayangnya Bruno dengan ayahnya. Juga love-and-hate relationship antara dia dan kakaknya, Gretel. Yang saya tidak mengerti, kenapa orang tua Bruno tidak mengatakan yang sesungguhnya terjadi? Kalau saya membaca dari bahasan reviewer lain, ibu Bruno baru tahu belakangan.

Yang tentu saja aneh, kok bisa? Hmmm..

Tokoh favorit saya dari buku ini adalah Shmuel, teman baru Bruno. Dia tabah, sabar dan sangat menyayangi sahabat barunya. Meski ayah Bruno adalah orang yang memimpin di kamp, Shmuel tidak mengungkit masalah tersebut.

Saya sendiri antara gemas dan kasihan membaca kepolosan Bruno di sepanjang cerita ini. Ada kalanya saya merasa dia itu cengeng. Tapi, saya juga merasa bahwa dia hanya sekadar polos.

Kalimat favorit saya dari buku ini adalah hasil pemikiran Bruno,

‘When I make mistakes I get punished,’ insisted Bruno, irritated by the fact that the rules that always applied to children never seemed to apply to grown-ups at all (despite the fact that they were the ones who enforced them). – page 59

Membaca buku ini, menyadarkan saya bahwa terkadang apa yang kita anggap suatu hal yang biasa (bahkan bisa jadi kita anggap sebagai hak), terkadang adalah hal yang luar biasa untuk orang lain.

Selain itu, kejujuran dan keterbukaan adalah hal penting dalam sebuah hubungan. Entah dalam pertemanan atau keluarga.

Sembari menulis post ini, saya berusaha sebaik mungkin mencari lagu yang cocok untuk buku ini. Sampai akhirnya saya mendengarkan lagu yang dimainkan oleh violinist favorit saya, David Garrett kemudian mengecek lirik lagu tersebut.

“Somewhere…

We’ll find a new way of living,

We’ll find a way of forgiving

Somewhere…”

Sebenarnya lagu tersebut adalah soundtrack Westside Story, tentang sepasang kekasih pula. Tapi saya rasa lagu tersebut juga cocok untuk buku ini.

Atau, jika kamu punya lagu lain yang kamu rasa cocok untuk didengarkan sambil membaca buku ini atau cocok dengan cerita ini, silahkan berbagi di kolom komentar, ya 😀

Cheers!

book-admirer signature-1

Submitted for:

  • Children’s Literature Reading Project
  • Books in English
  • Lucky no. 14 (cover lust)

Collage 2014-01-24 21_07_07-1

2 thoughts on “[Book Review] The Boy in the Striped Pajamas

  1. Pingback: 2014 TBRR Pile RC – My Reading List | Me: Book-admirer

  2. Pingback: New Authors RC 2014: May-June | Book-admirer

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s