People Like Us

photo (2) Title: People Like Us

Author: Yosephine Monica

Editor: Tia Widiana

Proofreader: Dini Novita Sari

Cover design: Angelina Setiani

Publisher: Penerbit Haru

Paperback, 330 pages

Publication date: June 2014

ISBN-13: 978-602-7742-35-2

Language: Indonesian

Genre: Juvenile, Romance

Rec. age to read: Above 12 y.o

Source: Publisher for Blog Tour

Price: Rp 45.900 (available at OwlBookStore)

Synopsis:

Akan kuceritakan sebuah kisah untukmu.

Tentang Amy, gadis yang tak punya banyak pilihan dalam hidupnya.

Serta Ben, pemuda yang selalu dihantui masa lalu.

Sepanjang cerita ini, kau akan dibawa mengunjungi potongan-potongan kehidupan mereka.

Tentang impian mereka,

tentang cinta pertama,

tentang persahabatan,

tentang keluarga,

juga tentang… kehilangan.

Mereka akan melalui petualangan-petualangan kecil, sebelum salah satu dari mereka harus mengucapkan selamat tinggal.

Mungkin, kau sudah tahu bagaimana cerita ini akan tamat.

Aku tidak peduli.

Aku hanya berharap kau membacanya sampai halaman terakhir.

Kalau begitu, kita mulai dari mana?

♥~

Mana yang lebih menyakitkan, dilupakan atau diabaikan?

Tentu saja kalian akan menggelengkan kepala kuat-kuat sambil mengeryitkan kening. ‘Mana ada yang lebih enak di antara kedua pilihan tersebut?’

Benar. Maka silahkan bayangkan bagaimana perasaan Amy saat dia bertemu lagi dengan Ben yang ternyata tidak mengingatnya. Bahkan menganggap dia sebagai pengganggu!

Amy pertama kali bertemu dengan Ben saat sedang mengikuti kursus musik. Mereka memang tidak saling mengenal. Amy tahu siapa Ben, sedangkan Ben tidak tahu siapa dia.

Ben pindah dari tempat kursus bahkan sebelum Amy memiliki keberanian untuk berkenalan dengan Ben. Teman-teman Ben pun tak ada yang tahu kemana Ben pindah. Amy sudah kehilangan harapan, saat itu.

Secara kebetulan, mereka bertemu lagi di sekolah sekitar satu setengah tahun sejak Amy kehilangan jejak Ben. Dan kali ini, Ben malah sudah keburu membenci Amy. Padahal, mereka masih saja belum ‘berkenalan’ secara resmi!

Amy tidak mengerti apa yang sudah dia perbuat sehingga Ben begitu tidak suka padanya. Ben sendiri tidak mengerti kenapa dia merasa begitu kesal pada Amy.

Semua karena Amy ketahuan menyukai Ben. Cowok itu merasa terganggu dan merasa Amy tak lebih dari stalker. Padahal, Amy tidak berniat seperti itu. Ia hanya sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyapa Ben.

Sebagai seorang cewek, saya sangat gemas dengan Ben yang menurut saya ‘berasa keren banget padahal mah dia gak ada apa-apanya, HUH!’ *bukan curcol, percayalah

Tapi di sisi lain, mengingat saya punya beberapa teman cowok, saya ngerti juga gimana rikuhnya Ben. Cuma, ayolah, Ben! Tuh cewek kan gak ngirimin kamu lagu lewat radio atau taruh surat di loker seperti..ah, sudahlah, tidak perlu dibahas 😐

Sampai akhirnya, Amy terkena penyakit yang bisa saja mengancam nyawanya. Teman Ben dan juga teman Amy memintanya agar memberikan kesempatan pada Amy. Yang akhirnya Ben berikan, dengan setengah hati. Dia datang mengunjungi Amy, berusaha bersikap biasa kepada Amy.

Pertanyaannya, apakah itu cukup? Apa Amy dan Ben bisa memulai lagi dari awal dan memperbaiki semuanya?

♥~

Membaca cerita Ben dan Amy membuat saya teringat betapa kita sering sibuk dengan perasaan kita sendiri. Merasa berbeda dengan orang lain padahal kita sendiri yang tak mau menjadi sama.

Saya senang Ben memutuskan membuka diri, berteman dengan Amy sebagai permulaan. Itu sebuah keputusan yang sangat baik dan saya yakin sangat disyukuri pula oleh Ben.

Dan pernahkah kau merasakan hal itu? Ketika kau terlibat dalam perbincangan menyenangkan dengan seseorang, kau tidak sadar berapa lama waktu yang kalian habiskan bersama, yang kau sadari hanyalah perasaan nyaman saat melihat sosok yang di sebelahmu bercerita penuh antusias sambil tersenyum. Rasanya kau bukanlah bagian dari dunia dan dunia bukanlah tempat yang rumit dan kacau.

…..

Kadang kau hanya perlu satu orang dan rasanya kau sudah bisa menggapai seluruh dunia dengannya ― page 259

Saya suka dengan pola interaksi antara Ben dan Amy. Kadang sebal dengan gaya Ben yang ‘kamu-naksir-sama-aku-jadi-seneng-aja-deh-aku-baik-sama-kamu’. Dan sama seperti Ben, sebenarnya saya heran kenapa Amy bisa naksir sama Ben. Amy punya jawaban yang bagus sekali untuk pertanyaan itu.

“Hanya karena kau punya banyak sekali kekurangan, bukan berarti kau tak layak dicintai.” ― page 251

Amy yang adalah seorang penulis dengan spesialisasi ‘tidak memiliki akhir cerita’, menjadi tokoh favorit saya dalam buku ini. Saya merasa bersimpati pada dia yang tegar dan tulus dalam menyayangi Ben.

Saya salut dengan ketabahan dia. Kalau saya sih, saya akan berhenti naksir Ben yang malah menganggap saya stalker ._.

Toh, semua berakhir manis buat Amy 🙂

♥~

#NowPlaying – If I Die Young by The Band Perry

There’s a boy here in town, says he’ll love me forever,
Who would have thought forever could be severed by…

…the sharp knife of a short life, oh well?
I’ve had just enough time

So put on your best, boys, and I’ll wear my pearls
What I never did is done

A penny for my thoughts, oh, no, I’ll sell ’em for a dollar
They’re worth so much more after I’m a goner
And maybe then you’ll hear the words I been singin’
Funny when you’re dead how people start listenin’

If I die young, bury me in satin
Lay me down on a bed of roses
Sink me in the river at dawn
Send me away with the words of a love song

Saya pertama kali mendengar lagu tersebut di Glee, saat episode mengenang Finn. Ternyata cocok juga untuk menggambarkan novel People Like Us 🙂

Amy ‘menjemput’ kematian dengan senang hati. Dia percaya bahwa dia sudah memiliki semua yang terbaik dan tidak ada yang perlu disesali.

Aku ingin dikenang, aku ingin dicintai. Tapi aku juga ingin kalian melanjutkan hidup.

Seperti yang sudah sangat sering saya dengar (dan sekaligus saya percaya), kematian itu tidaklah menyakitkan bagi yang menjalani. Masalahnya adalah yang ditinggalkan. Sudah siapkah kita kehilangan yang kita sayang, meski tahu bahwa itu adalah yang terbaik untuk mereka?

Menurut saya, kita tidak akan pernah merasa siap kehilangan.

Begitulah manusia. Mereka punya terlalu banyak hal yang ingin dikatakan pada seseorang yang telah melangkah pergi.

Rate:

RATING3


 

Blog Tour PLU

Hi there!

Siapa yang sangka kalau saya menjadi bagian dari Blog Tour Penerbit Haru untuk novel People Like Us? *sok merendah padahal mau sekalian sombong XD

Apakah kalian sudah membaca novel People Like Us? Saya harap sudah, ya!

Buku yang menjadi pemenang “100 Day Writing Romance” ini memang sangat layak dikoleksi. Kamu mungkin akan terkejut saat tahu seorang remaja bisa menulis cerita yang ‘seberat’ ini.

Diceritakan dengan POV orang ketiga, saya sedikit curiga kalau penulis terinspirasi dari seri “An Unfortunate Events” karya Lemony Snicket. Apakah benar? Kalau salah, saya sangat merekomendasikan penulis untuk baca seri itu dan menghadiahkan ke saya boxset yang lengkapnya *ditendang *banyak mau

Tema yang diangkat pun tidak biasa untuk novel teenlit, yaitu sick-lit. Eh, ini termasuk teenlit? Saya rasa sih iya, karena menceritakan saat sang tokoh utama masih di sekolah 🙂

Jadi, teenlit atau sick-lit? Terserah deh *malah ngambek *OK, kita lanjutin…

Sebenarnya, People Like Us bukanlah novel remaja pertama yang bergenre sicklit. Dari Indonesia, mungkin sudah ada yang tahu Dealova? Saya juga baru tahu novel itu sih, karena novel itu terbit saat saya masih kecil banget *denial *abaikan

Kemudian, kalau dari luar negeri, ada The Fault in Our Stars, dong! Ya, ya, ya..pasti tahu kan? Saya sendiri sebenarnya sedikit rancu tentang sick-lit.

Apakah selalu yang berurusan dengan kematian atau hanya berhubungan dengan penyakit (termasuk mental)?

Sick-Lit sendiri ternyata sudah menjadi genre di Goodreads, seperti yang bisa kalian cek di sini. Berikut sedikit contekan definisi sick-lit menurut GR:

When readers are immersed in a traumatic personal situation–such as terminal illness–it’s vital that they don’t feel alone or isolated, which can make their lives more stressful and their challenges all-encompassing. Novels and stories on the subject that plagues the reader can offer a sense of community, and perhaps even some hope for the future.

Nah, kalau saya sendiri, menganggap sick-lit adalah sebuah novel yang bercerita tentang bagaimana tokoh di dalam novel/cerita berjuang menjalani hidup dengan penyakit yang diderita. Gak selalu berhubungan dengan kematian, walau bisa saja mengarah ke sana.

Beberapa dari kalian mungkin akan bereaksi, “Waduh, apa enaknya baca sick-lit? Baca itu seharusnya buat senang-senang, bukannya malah bikin sedih!”

Saya gak bisa mengatakan kalau saya tidak setuju, karena saya terkadang misuh-misuh juga selesai baca buku sick-lit. Kita semua tentu senang dengan kisah yang berakhir bahagia, bukankah demikian?

Salah satu koran terkemuka di Inggris – Daily Mail – pernah membahas tentang sick-lit, terutama mengenai The Fault in Our Stars, Before I Die dan Thirteen Reasons Why. Artikel yang memicu kontroversi karena cukup keras ‘menentang’ peningkatan novel sick-lit untuk remaja.

Tentu saja tidak semua pihak setuju dengan pembahasan di Daily Mail. The Guardian punya pendapat berbeda tentang sick-lit dan memberi respon atas artikel Daily Mail. Kedua artikel tersebut sama menariknya dan menurut saya, sama-sama punya poin penting yang menarik.

Sekarang, mari kita bahas plus-minus dari sick-lit menurut pandangan saya:

🙂 Membuatmu tahu bahwa tidak ada hidup yang sempurna sehingga kamu belajar lebih bersyukur

Klise, tapi percayalah, ini benar adanya. Membaca cerita sang tokoh yang berjuang menjalani hidupnya bisa membuatmu berpikir demikian. Saat membaca Rules, saya terus berpikir demikian. Apa yang kita anggap biasa, tidaklah biasa buat David.

Jengkel dengan tingkah adik kita? Coba bayangkan kalau kita menjadi Cathy yang ‘harus’ mengerti kondisi David. Bukankah akan membuat hidupmu terasa lebih ringan? Membaca sick-lit akan membuat kita stop menjadi drama-queen karena drama di kehidupan kita tidaklah sehebat itu.

😦 Menguras emosi, khususnya buat yang berkepribadian melankolis

Ya iyalah ya… Kalau abis baca sick-lit terus malah berbahagia, aneh ._. Sejauh saya ingat, belum nemu sick-lit yang gak bikin mewek, setidaknya bikin trenyuh. Paling gak kesel sama pengarangnya karena tega, deh! *ngotot

Saat kamu lagi merasa sedih, sangat tidak disarankan untuk membaca sick-lit. Apalagi semacam The Fault in Our Stars. BIG NO! Meski ceritanya sweet, tapi bisa-bisa kamu tambah mellow-yellow. Contohnya saja saya, habis baca The Fault in Our Stars itu rasanya gak semangat mau ngapa-ngapain padahal kenal sama Gus dan Hazel aja gak 😐

🙂 Membuatmu bisa bernyanyi “You are Not Alone” atau “You’ll Never Walk Alone” atau apapun sejenisnya

Pernah atau sedang sakit? Pernah merasa kehilangan seseorang karena penyakit yang dia derita? Terkadang, kamu bisa merasa menemukan ‘teman’ saat membaca buku sick-lit.

Termasuk saya, saat membaca buku The Fault in Our Stars (again), saya bisa mengerti apa yang dirasakan Hazel. Saya tahu rasanya ‘ingin hidup normal’. Dan termasuk saat membaca kisah Amy dan Ben di People Like Us, saya mengerti sakitnya kehilangan. Terdengar aneh, tapi itu membuat saya merasa sedikit lebih baik.

😦 Mengingatkan pada kenangan buruk dan membuat kita semakin terpuruk

Kebalikan dari apa yang saya bahas di atas, perasaan ‘terhubung’ dengan cerita bisa juga menimbulkan perasaan tak berdaya. Membuat kita semakin terpuruk. Ini yang ditentang oleh penulis di artikel Daily Mail di atas. Untuk buku sick-lit tertentu, seolah ‘mengijinkan’ seseorang untuk menyerah pada keadaan, bukannya berdamai dengan diri sendiri.

Efek semacam ini menurut saya jarang ditemukan. Mungkin juga saya belum membaca buku semacam ini. Meski demikian, saya rasa seharusnya kita sudah bisa memilah sendiri apa yang baik atau tidak. Apa yang sesuai dengan realita dan hanya sebatas ‘cerita di novel’. Jangan biarkan imajinasi seseorang mempengaruhi keputusanmu di kehidupan nyata.

Pada akhirnya, setiap buku akan memberikan efek yang berbeda untuk tiap orang. Ada buku yang begitu menguras emosi satu pembaca tapi terasa biasa saja buat yang lain. Ada yang berhasil membuat orang ‘kembali ke jalan yang benar’ tapi membuat yang lain merasa sinis dengan apa yang dia baca.

Baik atau buruk efek suatu buku bukanlah bergantung pada genrenya, melainkan apa yang kita dapat dan implikasikan sesudah membaca buku tersebut. Kalau kamu membaca hanya untuk bersenang-senang, maka silahkan cari yang sesuai dengan kesukaanmu.

Membaca buku, mengambil makna dari sebuah buku, mendalami karakter di buku, semua adalah kebebasan penuh pengarang dan juga penulis. Pengarang tidak berkewajiban membuat kita suka dengan tulisannya. Begitu juga kita, pembaca, tidak perlu pusing kalau gak suka dengan hasil karya pengarang. *lah jadi melebar

Intinya, bacalah selama kamu suka, tinggalkan kalau gak suka. Ingat, jangan biarkan ‘fiksi’ membuatmu lupa akan ‘fakta’.

Silahkan baca juga beberapa artikel menarik tentang sicklit dari CTV News. Sekadar untuk menambah informasi 😀


Nah, sekarang saatnya giveaway!

What? Kaget? Harusnya gak, karena saya kan anak yang baik dan tidak sombong *dijitak

Giveaway kali ini sederhana saja, tapi tetap harus dibaca baik-baik peraturannya, ya! 😀

  1. Tuliskan di kolom komentar postingan ini: Nama, akun twitter, akun facebook dan pendapat kamu tentang sick-lit
  2. Like facebook fanpage Penerbit Haru dan Miss ZP
  3. Follow twitter @penerbitharu dan @miss_zp
  4. Tweet tentang giveaway ini dengan kalimat buatanmu sendiri. Jangan lupa cc ke @penerbitharu dan @miss_zp plus tagar #PeopleLikeUs
  5. Harap hanya tweet SATU kali per hari
  6. Giveaway akan berlangsung selama satu minggu. Yang artinya, akan ditutup pada tanggal 23 Juni 2014 jam 23:59

Hadiahnya? Buku Oppa & I untuk dua orang pemenang dan ongkos kirim akan ditanggung oleh host! 😀

Pengumuman untuk pemenang di blog Book-admirer akan dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 2014.

Eits!

Masih belum selesai 😀

Selain berkesempatan memenangkan buku dari giveaway di atas, kamu juga masih berkesempatan memenangkan hadiah dari giveaway FINALE.

Apa hadiahnya?

  • Paket buku Haru
  • iPad Cover People Like Us dari Emerald Green Label
  • Totte Bag dari Emerald Green Label

Caranya pun mudah saja, tinggal ikut seperti yang sudah ditulis berikut ini:

  1. Ikuti setiap postingan dari para peserta blog tour People Like Us
  2. Di setiap akhir postingan, akan ada sebuah huruf yang harus kamu simpan
  3. Huruf-huruf tersebut harus disusun menjadi KATA dan dirangkai dalam bentuk gambar
  4. Gambar rangkaian kata tersebut diposting di wall fanpage Haru dan sampaikan juga kesan-kesanmu selama periode blog tour People Like Us

Berikut ini daftar rekan blogger yang menjadi bagian blog tour People Like Us, termasuk jadwal posting:

Huruf-huruf yang harus dikumpulkan dihapus secara serentak pada tanggal 5 Juli 2014

Fyuhhh~

Semoga sudah cukup jelas ya!

Apabila masih ada pertanyaan, silahkan tinggalkan komentar di post ini atau kontak saja saya lewat twitter: @miss_zp. Bisa juga cek langsung di fanpage Penerbit Haru untuk keterangan Giveaway Finale.

Hope you all have fun and good luck!

Cheers!

book-admirer signature-1

69 thoughts on “People Like Us

  1. Aku suka novel yg sad ending sih jadinya ya aku suka sicklit (tpi dlm keadaan tertentu aja) karena pas baca sicklit pas lagi sedih krn galau gitu malah bikin nangis ga berhenti2 tp jadi bisa mensyukuri anugerah kehidupan yg dikasih Tuhan oleh kita abis baca sicklit…

    Nama: Yuniar Saraswati
    Twitter: @yurizkyyy
    Fb: Yuniar Saraswati

    Like

  2. Pingback: Wishful Wednesday [48] | Book-admirer

  3. Pingback: Giveaway People Like Us – Winners | Book-admirer

  4. Pingback: New Authors RC 2014: May-June | Book-admirer

  5. Pingback: [Meet the Author] Akiyoshi Rikako + Giveaway! | Book-admirer

  6. Pingback: [Book Review] Sweet Home | Book-admirer

  7. Pingback: Wishful Wednesday [55] | Book-admirer

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s