Buku Jalan-Jalan [2] | Conan 1-5

lunes

Hi there!

Saatnya postingan kedua untuk Buku Jalan-jalan, proyek saya bersama Kak Ira. Kali ini, saya pinjam lima buku sekaligus! Gak tau diri XD

Yah, habisnya saya kagum banget sih karena Kak Ira masih punya komik ini dari nomor 1 dan juga sangat rapi merawatnya *sayang-sayang bukunya. Dan benar juga yang dibahas oleh Kak Ira di Buku Jalan-jalan #2, ngiri sama buku-buku kami yang udah lintas pulau. Aku belum pernah ke Kalimantan, euy 😦

Anyway, kali ini, saya pinjam komik Conan no 1-5 ke Kak Ira 😀


 

Saya lupa siapa yang pertama kali mengenalkan Conan ke saya. Saya juga lupa kapan tepatnya pertama kali saya baca Conan. Yang pasti, saya baru baca ulang Conan dari no. 1 karena adik saya.

Kebetulan adik saya punya aplikasi yang khusus buat baca Conan berbahasa Inggris di Android. Saya ikutan install dan jadi ketagihan baca terus. Sayangnya, sampai sebelum saya menyerahkan tablet ke kakak saya, belum update lagi yang diterjemahkan. Kalau tidak salah, terakhir no. 60-an. Udah lupa juga sih, udah lumayan lama XD

Nah, sekarang mari kita membahas tentang komik Conan no. 1-5 yang saya pinjam dari Kak Ira.

Hal pertama yang saya kagum adalah bukunya masih bagus banget! *salah fokus. Kak Ira tipe yang apik nih ngerawat buku. Beda banget sama aku yang sekadarnya kalau sampul buku. Belum lagi buku yang Kak Ira pinjem belum aku sampul semua *ketauan lagi males.

Terus, pas baca volume satu, saya merasa Ran berarti sudah berubah banget ya, sekarang. Lebih cakepan yang sekarang sih, menurutku. Yang di volume satu tuh, apa ya, kurang cakep aja XD

Saya juga sedikit terganggu dengan gambar korban di case pertama. Itu lho, yang adegan pembunuhan di roller coaster. Menurut saya tidak masuk akal kalau darahnya muncrat seperti itu. Jadi kayak Final Destination. Tapi kalau FD kan memang lebay. *tetep gak terima

Lalu motif dan cara kerja pelaku pun menurut saya kurang ‘kuat’. Saya gak abis pikir aja gimana caranya dia nyelipin pisau sebesar itu di tas cewek? Kapan dia selipin? Saya butuh penjelasan, yang tidak diberikan oleh pengarang.

Kejanggalan lain yang saya sampai sekarang masih gagal paham adalah soal ‘Kogoro Tidur’. Kok bisa sih? Apalagi yang pas pertama kali ‘ditidurkan’, Conan getok pala Paman Kogoro.

Masa’ gak keliatan kalau pala dia benjol dan muka dia tuh bukan tidur tapi pingsan?

Kemudian adegan saat Conan memegang tangan Ran di tangga sambil menggunakan alat perubah suara. Iya, itu gelap. Tapi segelap apapun, secepat apapun, masa gak ketauan kalau dia anak kecil? *mulai sewot

Meski demikian, percayalah, saya pencinta Conan, kok. Saya suka dengan segala intrik, kasus dan cara penyelesaian Kudo.

Cerita favorit saya dari volume 1-5 ada di no. 5, yaitu cerita tentang Tatsuya Kimura, yang dibunuh usai menyanyikan lagu Bloody Venus. Sedih 😦

Cerita itu mengingatkan saya, lagi dan lagi, agar selalu jujur pada diri sendiri dan juga orang yang kita sayang. Kecuali kamu pacaran dengan mind-reader, selalu ungkapkan apa yang ada di hatimu dan gak usah kode-kodean atau sinyal tertentu. Be honest, be true, be sincere and you will be loved.

Saya tetap akan membaca Conan, walau banyak yang aneh dan gak bisa saya terima, saat ini. Karena terkadang kita gak bisa memaksakan logika kita masuk ke dalam cerita. Cukup dinikmati saja, kan?

Cheers!

Untitled-3

4 thoughts on “Buku Jalan-Jalan [2] | Conan 1-5

  1. Pingback: Buku Jalan-jalan #2 | Double Act Review | Ira Book Lover

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s