Tentang Keabadian

Saya punya sebuah quote favorit dari komik.  Komiknya sendiri saya sudah lupa judulnya dan tentang apa. Kira-kira quote-nya seperti ini, “Keabadian adalah saat waktu terasa berhenti. Saat kalian bersama, itulah keabadian dalam ingatan.”

Salah satu sahabat saya adalah seorang yang saya kenal sejak masih SD. Sebenarnya ada masa saat kami tidak lagi dekat, yakni saat SMP. Begitu SMA, saya jadi sering kontak sama dia lewat YM. Sekitar tahun pertama saya bekerja (saya langsung bekerja begitu lulus SMA), saya bertemu lagi dengan dia.

Sebetulnya itu lebih tidak secara sengaja. Saya sedang berada di Plaza Semanggi, begitu juga dia. Saya ke sana bersama teman kerja dan saya mengiyakan saat dia mengajak bertemu sejenak. Saya pikir tentu tidak akan lama.

Kenapa? Hmm..pernahkah kamu bertemu dengan kawan lama? Biasanya akan terasa canggung, sehingga saya juga mengira akan seperti itu. Apalagi di YM pun kami lebih sering hanya chatting basa-basi.

Eh ternyata, teman saya ini teman yang lebih menyenangkan diajak ngobrol langsung daripada lewat chatting. Kami terlibat pembicaraan seru yang lama, bahkan sampai saya melupakan teman kerja saya (maafkan! >,<)

Berbicara bersama dia itu menyenangkan. Pengetahuannya luas dan selalu bisa menyampaikan pendapat dengan baik. Selera kami pun kurang lebih sama. Oleh sebab itu, saya senang kalau nonton film sama dia. Kami sering akhirnya terlibat diskusi soal film yang ditonton.

Seingat saya, belum pernah kami berbeda pendapat soal film yang ditonton. Biasanya kalau dia gak suka, saya juga gak. Kalau saya bosen, apalagi dia.

Musik pun begitu. Saya bukan penggemar musik metal seperti dia. Tapi setiap kali dia kasih link youtube ke saya, pasti saya suka. Mungkin dia sudah mengerti seperti apa yang saya suka, sehingga selalu nyambung.

Begitu juga saat dia kasih link ke 9gag. Ada saja yang dikirimkan. Kebanyakan gif yang konyol. Atau foto dari path.

Terkadang kami bisa saling berkirim pesan secara intens selama berhari-hari. Sering juga kami tak saling kontak dalam waktu lama.
Belakangan dia lebih sering kontak saya lewat Line. Dan cuma dia yang rajin kontak saya lewat Line. Jadi saya sudah bisa menebak siapa yang message saat notif dari Line muncul 🙂

Setiap kali sudah lama kami tidak chat, saya akan menghapus history yang lama. Akan muncul notifikasi semacam ini, “Apakah kamu yakin? Ini akan terhapus selamanya.”

Dan saya tetap menekan “Yes” karena saya yakin masih akan ada hari esok. Masih akan ada chat yang baru dari dia.

Saya termasuk jarang menyapa dia lebih dulu karena saya bukan orang yang pintar memulai percakapan atau basa-basi.

Saya hanya mengontak dia lebih dulu untuk mengingatkan The Mentalist tayang di Warner TV, Selasa jam 8.50. Beragam jawaban yang akan dia berikan, entah dia sedang menonton, masih di kantor atau malah kelewatan karena baru sampai rumah.

Terkait dengan sifat pelupa saya, maka saya juga tidak rutin mengingatkan dia. Apalagi kalau saya memang sedang kesal dengannya. Saya enggan menyapa dia, bahkan mengomel pun saya enggan.

Saya harus mengakui saya sering merasa saya konyol saat kesal dengannya. Tapi, saya tidak bisa menyangkal kalau saya kesal. Jadi saya memutuskan mengacuhkan dia. Toh dia tidak pernah protes, walau saya tahu dia sedikit sadar.

Karena setiap kali saya kesal dan mengacuhkan dia, maka dia pun akan menjaga jarak. Mungkin menunggu sampai saya tenang dan kemudian menghubungi dia kembali.

Sayangnya, kali ini saya tidak bisa menghubungi dia kembali.

Mungkin saya tidak akan pernah selesai merangkai kata tentang bagaimana saya kehilangan dia. Saya harus mengakui, dia turut berperan dalam membentuk diri saya yang sekarang.

Dia yang meyakinkan saya agar terus menulis. Dia menemani saya dalam beberapa acara perbukuan atau penulisan. Dia memberikan informasi kepada saya setiap ada acara/lomba penulisan yang dia tahu.

Dia juga yang membuat saya semakin mengerti mobil. Meski saya tidak mengerti, dia tidak ragu menjelaskan.

Sembari menuliskan ini, saya baru tersadar bahwa saya tidak mengenal dia, sebaik dia mengenal saya. Sangat sedikit yang saya tahu tentang dia, sementara saya mungkin bagaikan buku yang terbuka lebar untuknya.

Dia memiliki peran penting dalam hidup saya, sementara saya tidak banyak membantu dalam hidupnya.

Saya sadar bahwa saya tidak punya kemampuan memutar waktu. Saya pun merasa tidak membutuhkan kemampuan itu.

Yang saya perlukan sekarang adalah, memahami bahwa keabadian bukanlah berhubungan dengan waktu, melainkan dengan perasaan.

Saya mungkin tak bisa lagi melihat atau berbicara dengan dia, tapi persahabatan yang pernah ada akan selalu menguatkan saya.

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s