[Buku Jalan-jalan #3] The Hunger Games

lunes

Aaah, saya super berasa gak enak sama Kak Ira @ Ira Book Lover sebagai partner saya di Buku Jalan-jalan. Harusnya posting ini dilakukan tanggal 28 Agustus, tapi saya malah baru posting sekarang. Maafkan saya, Kak! Kak Ira sendiri sudah review buku jalan-jalan edisi ketiga yang bisa dicek di sini: Ira Book Lover – Buku Jalan-jalan 3

Selanjutnya, langsung saja saya share buku yang saya baca (seharusnya) untuk bulan Agustus:

Cr: Goodreads

Winning will make you famous.
Losing means certain death.

Membaca buku ini, rasanya adalah suatu hal yang menyenangkan. Saya sudah tahu buku ini sejak lama tapi saya ragu saya akan tertarik. Tapi setelah membaca Divergent dan suka, akhirnya saya jadi memberanikan diri membaca buku ini.

Langsung saja saya cerita apa yang saya suka dari buku ini, ya!

  1. Peeta
    Yes, now I’m officially #TeamPeeta! Walau gak bisa memungkiri peran Gale di sini kalah dominan sama Peeta, tetap saja. Buat saya, Peeta itu unyu banget dan minta dibawa pulang. Gak heran kalau Katniss gak mau pu…*ups, nyaris aja spoiler 😛 Intinya suka banget sama ketulusan Peeta dan ending dari buku ini bikin hati saya ikutan hancur dan pengen bejek Katniss *emosi berlebihan

  2. Peeta
    Iya, saya suka banget sama Peeta. Jadi saya akan menulis Peeta dari no 1, 2 dan 3 alasan saya suka sama The Hunger Games

  3. Peeta
    Told you

  4. Kekuatan karakter tiap tokoh
    Saya selalu mencari buku yang semacam ini, di mana tiap tokoh itu unik dan manusiawi. Biar saya jengkel sama Katniss, saya tetap kagum dengan keberanian Suzanne bikin karakter utama yang bikin saya jengkel *lho

  5. Surprise!
    Saya beberapa kali terkejut saat membaca buku ini. Tidak semua hal sesuai dengan prediksi saya. Jadi, menurut saya, penulis cukup sukses membuat twist.

Selanjutnya, kita bahas 5 hal yang saya tidak suka dari buku ini:
1. Katniss
Saya sebel banget sama kelabilan cewek ini. Egois. Gak peka. Nyebelin pokoknya. Dan saking sebelnya, saya akan menaruh Katniss di no 1, 2, 3 dan 4.

  1. Katniss
    For kissing Peeta

  2. Katniss
    For cuddling with Peeta. Huh!

  3. Katniss
    Untuk hal yang dia lakukan di akhir buku ini. Why? Why? WHY?

  4. Sepertinya saya gak bisa nemu alasan lain saya gak suka buku ini selain Katniss, jadi…mungkin kita salahkan pengarangnya yang terlalu hebat dalam membuat karakter Katniss (dan Peeta) yang membuat saya bete untuk setiap keputusan dan tindakan yang saya anggap merugikan perasaan saya sebagai pencinta Peeta.

Lalu, lewat sebuah percakapan bersama teman saya yang juga adalah penggemar THG (dystopia, lebih tepatnya), saya jadi merasa mendapat pencerahan mengapa saya jauh lebih suka THG daripada Divergent.

Jujur deh, susah kan tidak membandingkan keduanya?

Kalau saya sih, lebih suka The Hunger Games karena mampu membuat saya tertarik pada semua aspek. Game-nya, karakternya, masa lalu para tokoh, nasib para tokoh ‘figuran’ (saya secara jujur terpesona sama Rue walau saya sedikit curiga sama dia di awal cerita, hm!), intinya THG berhasil membuat saya tertarik dengan keseluruhan cerita.

Sedangkan untuk Divergent, saya merasa itu lebih kuat nuansa young adult daripada dystopia. Ada beberapa hal yang bikin saya gak paham sama konsep Divergent, termasuk fraksi-fraksi. Menurut saya sih, gak perlu ada fraksi Amity karena sudah ada Condor. Dan hal semacam itu.

Sedangkan untuk THG, rasanya pas. Semoga saja saya akan terus terpesona akan Peeta sampai dengan saya membaca buku terakhir dari seri ini.

Oh ya, saya juga baru teringat kalau alasan lain saya suka buku ini adalah cara penulis menjelaskan soal makanan yang bikin laper. Wajar karena diceritakan dari POV pertama, Katniss, yang dikisahkan sangat jarang makan makanan ‘layak’.

Quote favorit saya di dalam buku ini adalah:

“As you long as you can find yourself, you’ll never starve.” – page 63

Selebihnya sih lebih ke adegan-adegan yang ‘menyentuh’, seperti saat Katniss pertama kali membunuh di game:

“I killed a boy whose name I don’t even know. Somewhere his family is weeping for him. His friends call for my blood. Maybe he had a girlfriend who really believed he would come back…” – page 294

Lalu adegan satu lagi, yang saya gak mau kasih tau halaman berapa biar kalian cari dan baca sendiri aja.

“I remember everything about you,” says Peeta, tucking a loose strand of hair behind my ear. “You’re the one who wasn’t paying attention.”

“I am now,” I say.

“Well, I don’t have much competition here,” he says.

*meleleh

Sudah ah, segitu saja dulu. Saya mau melanjutkan impian indah saya bersama Peeta. :*

Rate:

RATING5

8 thoughts on “[Buku Jalan-jalan #3] The Hunger Games

  1. Pingback: Buku Jalan-jalan #3 | Lotte Rangkap Dua Review | Ira Book Lover

  2. Pingback: Buku Jalan-jalan #4 | Frankenstein Review | Ira Book Lover

  3. Pingback: Yummy Story ≠ Yummy Title | Book-admirer

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s