Anggaran Beli Buku

Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu saya iseng membaca sebuah postingan yang membahasa cara mengatur keuangan, terutama untuk anak muda seperti saya.

Salah satu poin yang dibahas adalah mengenai bahwa kita harus mengatur pengeluaran, agar tidak menumpuk. Saya sudah gak gitu inget, tapi kira-kira idenya adalah membuat pos untuk gaji kita.

Ada yang untuk biaya makan dan transport, biaya rutin (listrik, kartu kredit, internet, dsb), investasi/tabungan, biaya sehari-hari dan biaya bersenang-senang.
Saat pembahasan biaya bersenang-senang, dibahas bahwa misalnya bulan ini kita sudah membeli buku, maka bulan depan kita tak usah membeli buku. Saatnya beli hal lain, yang juga masih sesuai dengan minat kita. Contohnya, saya suka musik, maka saya bisa ganti dengan beli CD.

Reaksi saya saat membacanya adalah:

Source: click image
Source: click image

Bukannya saya mau sombong dengan bilang bahwa saya punya budget tak terbatas buat buku. Tapi saya sih, lebih milih untuk irit di hal lain.

Bukan berarti juga tiap bulan saya pasti membeli buku. Hanya saja, membayangkan dalam satu bulan saya tidak bisa membeli buku, duh! Ogah banget.

Saya lalu jadi kepikiran untuk membahas tentang anggaran belanja buku. Sebagai karyawan berpenghasilan tetap namun berpengeluaran tidak tetap, saya harus berusaha sebaik mungkin agar keuangan saya setidaknya gak sampe minus.

Saya pernah melewati masa kalap belanja buku akibat ada obralan. Bayangkan, saya belanja buku saja sampai nyaris separuh gaji! Padahal buku yang dibeli juga rata-rata cuma impulsive. Banyak yang akhirnya saya re-sale karena rasanya gak akan pernah terbaca.

Saya pun mulai berusaha agar kejadian tersebut tidak terulang. Saya juga gak mau dong, kalau hasil kerja hanya habis untuk belanja buku yang akhirnya malah tidak terbaca. Apalagi rak buku saya semakin sesak. Jadi, saya mulai melakukan beberapa langkah khusus sebelum belanja buku.

Pertama dan yang paling penting buat dilakukan, mengingat pengeluaran yang sudah dihabiskan untuk belanja buku. Paling tidak, jangan sampai belanja buku saya lebih besar daripada uang makan seminggu XD Kalau misalnya saya sudah belanja buku dengan nominal cukup besar, biasanya saya akan menahan diri untuk tidak belanja buku lagi. Setidaknya selama seminggu, dua minggu malah lebih bagus.

Kedua, beli buku yang memang pengin banget dibaca. Sesudah kalap dan akhirnya nyesel sendiri, saya jadi membiasakan untuk membeli buku yang memang ingin saya baca. Selain untuk menjaga anggaran, ini juga membantu menjaga agar lemari buku saya gak overload πŸ˜›

Ketiga, jangan merasa sayang buat melewatkan diskonan. Masih berhubungan dengan hal kedua, ini juga penting. Saya sering banget melihat buku yang kayaknya menarik dengan harga miring. Akhirnya beli, eh terus banyak banget! Menghibur diri dengan ucapan “Kan diskonan” ternyata gak bikin merasa lebih baik, sih. Percayalah 😐 Tapi jangan juga melewatkan diskonan untuk buku yang kamu benar-benar incar dan akhirnya akan beli juga. Sayang, dong!

Keempat, membuat data buku yang dipunya. Ini bagus buat mencegah buku kebeli double. Saya sendiri gak nyangka saat kejadian ke saya. Gara-gara kalap titip ini itu ke temen, eh akhirnya saya ada beberapa judul yang double. Kacau, deh. Mendata buku membantu kita ingat buku apa saja yang sudah kita punya, sekaligus peringatan halus kepada diri sendiri. Siapa tahu saat tersadar timbunan sudah menggunung, jadi gak terlalu kalap belanja buku XD

Kelima, menabung buat beli buku. Sebenarnya ini agak sulit dilakukan setelah kerja. Soalnya, sudah tahu kapan gajian sih, ya. Jadi, untuk nahan diri buat gak langsung beli buku aja tuh agak susah. Tapi, saya sedang belajar untuk melakukannya. Ada yang percaya bahwa semakin sulit kita mendapatkan sesuatu, maka kita akan semakin menghargai pencapaian kita. Ini juga membantu agar lebih displin. Semoga saja saya bisa terus konsisten πŸ™‚

Kalau untuk akhir tahun semacam ini sih, pengeluaran saya buat buku biasanya malahan buat tukar kado atau giveaway. Ikutan tukar kado juga bisa jadi semacam altenatif sih. Tapi lebih ke arah untuk variasi aja, soalnya sama aja kan keluar duit, hehehe…

Sampai dengan saat ini, saya belum bisa dibilang terbebas juga dari gelar ‘penimbun sejati’ dan rasanya gak mungkin juga berhenti belanja buku. Rasanya kurang lengkap saja kalau sudah lama gak beli buku XD

Kalau mengutip kata artikel yang saya baca dan singgung di bagian awal tulisan ini sih, bukan berarti harus berhenti bersenang-senang (baca: beli buku) tapi diperhatikan dengan betul agar tidak kebablasan.

Meski demikian, saya dengan pasti gak akan menuruti nasihatnya untuk mencoret belanja buku dari anggaran bulanan XD

Cheers!

Untitled-3

24 thoughts on “Anggaran Beli Buku

  1. Kalo aku pernah ada masanya agak-agak boros. Pernah juga sengaja budgetin tinggi buat kado ulang tahun (lalu bokek di bulan-bulan selanjutnya). Bahkan pernah juga sebulan cuma beli buku yang jumlahnya bisa dihitung pakai tangan.
    Tapi kalau sekarang lebih santai, sih. Kalau kurasa masih bisa terjangkau kubeli (lalu itung2an buat biaya lainnya). Kalau nggak ya ditahan. Punya buku itu jodoh2an kalo buatku. Kalo jodoh, pasti ketemu lagi πŸ˜€

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s