[Guest Post] Bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah?

Familiar dengan judul post di atas? Bagi yang sudah pernah membaca The Magician’s Elephant-nya Kate DiCamillo pasti tahu dong sama tiga kalimat “sihir” itu 😀

Yap gara-gara habis membaca buku tersebut, dan membaca tema guest post yang diberikan oleh Zelie, saya jadi kepikiran tentang tempat khayalan yang hanya ada di dalam cerita atau buku. Bagaimana kalau tempat itu benar-benar ada? Kenapa tidak? Tempat itu mungkin saja benar-benar ada. Mungkinkah tempat itu benar-benar ada?

Karena bagian ending buku ini mengatakan, kalau ada sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi akhirnya terlupakan, maka peristiwa itu akan menjadi sebuah cerita. Tapi kalau kita mau mencari, maka kita akan menemukan bukti kecil yang menunjukkan kalau cerita itu memang pernah terjadi. Meskipun bukti itu hanyalah sebuah ukiran, tapi ukiran itu adalah bukti sebuah kebenaran yang dipahat.

Saya jadi teringat pada sebuah tempat khayalan yang disebut-sebut sebagai sebuah kerajaan bernama Negara Dipa, yang menurut cerita dan buku-buku lokal Kalimantan Selatan, adalah cikal bakal kerajaan Banjar. Salah satu buku lokal yang menceritakan tentang kerajaan ini adalah Cerita Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan (reviewnya bisa dilihat di sini).

Tidak familiar sama kerajaan Banjar? Kalau begitu ingat Pangeran Antasari, pahlawan nasional yang gambar beliau ada di uang kertas dua ribu rupiah? Nah itu dia beliau, Pangeran Antasari adalah pangeran dari kerajaan Banjar.

Nenek moyang beliau, Sultan Suriansyah, yang dulunya bernama Pangeran Samudera, adalah pangeran dari Kerajaan Negara Daha, dan Kerajaan Negara Daha adalah Kerajaan Negara Dipa yang berganti nama dan berpindah pusat kerajaan lebih ke daerah hilir ribet mode on. Berkat Sultan Suriansyah, Kerajaan Banjar menjadi kerajaan Islam dan terletak di daerah Martapura – Banjarmasin, sedangkan moyangnya, Kerajaan Negara Dipa adalah kerajaan Hindu yang terletak jauh di daerah Hulu Sungai, Kalimantan Selatan.

Dulu guru saya pernah bilang tentang alasan kenapa Kerajaan Negara Dipa tidak termasuk dalam kerajaan-kerajaan Hindu Budha di buku-buku sejarah sekolah. Katanya itu karena bukti-bukti sejarah tentang keberadaan kerajaan tersebut terlalu sedikit. Meskipun ada sebuah candi Hindu bernama Candi Agung di sana, tapi tetap saja tidak bisa dijadikan bukti karena candi tersebut hanya tinggal pondasi dasarnya saja.

Ehm, kebetulan kampung halaman saya di Hulu Sungai tempat di mana Candi Agung berada. Dulu, daerah itu katanya adalah sebuah gunung. Para kakek-kakek dan nenek-nenek kalau pergi ke daerah candi, selalu bilang pergi ke gunung. Kami para cucu-cucunya jadi bingung, karena di daerah itu sama sekali tidak ada gunungnya.

Menurut cerita juga nih, dulu memang ada gunung di sana dan bahwa harta kerajaan disimpan di gunung tersebut. Para penjajah Belanda yang ingin memiliki harta tersebut menggali gunung tersebut. Setiap lapis tanah yang mereka gali, maka selapis tanah pula harta itu dipindahkan ke bawah oleh pihak kerajaan secara gaib. Hingga akhirnya gunung itu rata dengan tanah, para penjajah Belanda tetap tidak bisa menemukan harta kerajaan tersebut. ini penjajah gigih banget ya.

Nah, bukan hanya hartanya saja yang bisa menghilang secara gaib. Tapi Raja, Ratu dan para panglimanya pun menghilang secara gaib dan dikabarkan masih hidup sampai sekarang. Diceritakan pula bahwa daerah Candi itu banyak penghuninya, mereka beraktivitas sama dengan manusia biasa hanya saja mereka hidup di alam sebelah. Dan kalau ada yang mau memanggil mereka bisa saja. Hayooo ada yang berani coba? 😀 Nah, mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai “orang-orang candi”

Banyak kejadian gaib yang terjadi daerah sekitar candi. Mulai dari anak-anak kecil yang sering melihat “orang-orang candi” yang tidak terlihat oleh orang dewasa, orang dewasa yang memang punya kemampuan untuk melihat “orang-orang candi”, “orang-orang candi” yang memang menampakkan diri pada orang dewasa, sampai kesurupan masal di sekolah-sekolah yang berlokasi di sekitar candi pada tanggal yang sama setiap tahun.

Jadi, bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah? kerajaan beserta penghuninya yang menghilang secara gaib ini memang benar-benar ada. Kalau menurut cerita The Magician’s Elephant sebuah ukiran saja bisa menjadi bukti bahwa sebuah peristiwa memang benar terjadi apalagi kalau buktinya sebesar candi kan? Kalau benar, saya jadi pengen melihat “orang-orang candi” tersebut. Menurut rumor, mereka semua berwajah rupawan. Yang wanitanya identik dengan rambut yang panjangnya sampai ke mata kaki.

Sayang saya tidak diberi “kemewahan” untuk bisa bertemu dengan mereka. Waktu saya masih kecil dan innocent plaak saja saya tidak bisa melihat mereka apalagi sekarang saat saya sudah dewasa. nangis dipojokan. Kadang saya sering berkhayal mungkin saja saya memang pernah bertemu mereka tapi ingatan saya dihapus agar keberadaan mereka tetap jadi misteri khayalan tingkat tinggi kebanyakan baca cerita fantasi 😀

Entah benar ada atau tidak, kami punya kebiasaan kalau berjalan di daerah itu selalu menyebutkan permisi atau permintaan maaf kalau-kalau kami tidak sengaja menabrak mereka di jalan dan itu semata-mata karena kami tidak bisa melihat mereka. Karena katanya kalau mereka marah, kita bisa kena penyakit yang aneh-aneh.

Whatever-lah, yang penting asik juga kan kalau kerajaan yang hilang secara gaib itu benar-benar ada. Bayangkan tanpa sadar setiap hari saya berjalan di daerah kerajaan tempo dulu lengkap dengan masyarakatnya yang tidak kasat mata, kereeen.

Bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah? Ya, seperti kata polisi Leo Leo Matienne di Magician’s Elephant, kita harus selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini sesering yang kita berani karena kita bisa mengubah dunia dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Jadi, bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah?


Ditulis oleh: Ira @ Ira Book Lover

Blog: http://irabooklover.wordpress.com/

Sekilas tentang Ira: Book-admirer and Friends #1

2 thoughts on “[Guest Post] Bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah?

  1. renpuspita

    Wih, keren, keren cerita tentang Negara Dipa :D. Tau kok Kerajaan Banjar, dulu waktu sejarah aku suka banget kalau bahasannya tentang kerajaan abad 8-10.
    Bisa jadi bahan buat novel nih 🙂

    Like

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s