[Guest Post] The International Relations Analysis of the Lunar Chronicles Series

The International Relations Analysis of the Lunar Chronicles Series

Oleh, Puji P. Rahayu

Hello, there!

Apa kabar? Perkenalkan kembali, namaku Puji P. Rahayu. Biasa dipanggil Puji dan bisa dikunjungi di Prayrahayu’s Book. Hoho. Oh, iya. Di kesempatan kali ini, aku ingin sedikit berbagi mengenai kecintaanku terhadap salah satu seri yang aku baca. Akan tetapi, kali ini, aku ingin membawakan satu hal yang cukup berbeda. Apa itu? Aku ingin membahas dan menganalisis apa yang terjadi dalam The Lunar Chronicles—yap, seri karangan Marissa Meyer ini yang akan kubahas—melalui kerangka ilmu hubungan internasional.

lunar-chronicles-by-marissa-meyer
Gambar 1 – Seri The Lunar Chronicles karya Marissa Meyer

Oh, mungkin kalian bertanya-tanya mengapa aku menggunakan kerangka Ilmu HI. Jadi, aku adalah mahasiswi HI yang kebetulan tertarik dengan kajian pop culture—dan tentunya lagi gabut. Hihi. Menurutku, tidak ada salahnya apabila aku mencoba untuk menganalisis apa yang terjadi di The Lunar Chronicles melalui kerangka ilmu HI. Tentunya, tulisanku ini terinspirasi dari buku karangan Daniel H. Nexon dan Iver B. Neumann yang berjudul Harry Potter and International Relations. Sayangnya, aku belum mendapat kesempatan untuk membacanya ☹ Ugh, anyone? Buy me one, please!

Continue reading “[Guest Post] The International Relations Analysis of the Lunar Chronicles Series”

[Guest Post] Behind the Scene Januari; Flashback

flashback

Flashback ini bisa dibilang project keroyokan, ditulisnya bertiga sama dua orang penulis lainnya. Awalnya nggak kenal langsung sama mereka, kenalnya karena dikirimin email dari penerbit, tawaran nulis bareng mereka berdua. Akhirnya, kita mulai deh diskusi mau nulis apa. Grup Whatsapp-nya lumayan berisik karena ketiganya bawel, hehe. Hal yang pertama kali kami tentukan adalah genre, yang kemudian disepakati jadi romance-thriller dengan sasaran pasar pembaca dewasa.

Karena honestly, aku agak lama kalo disuruh nulis pure romance, sedangkan kemarin waktunya memang agak sempit. Untuk menyesuaikan dengan aku, mereka berdua setuju genrenya mixed antara thriller dan romance. Nah, kalo nulis thriller sih biasanya encer. aduk-aduk otak sendiri

outline

Nulisnya kurang lebih satu setengah bulan. Dalam waktu yang sesempit itu, kami semu sama-sama berusaha gimana caranya naskah ini maksimal. Awal yang paling hectic itu riset. Bagaimanapun, dalam sebuah novel pasti ada risetnya, kan? Nah, di Flashback ini risetnya soal tokoh utama yang seorang polisi. Kami bertiga nggak pernah nulis tentang polisi sebelumnya, jadi akhirnya aku nanya-nanya ke @ridoarbain yang lebih ngerti masalah polisi-polisian. mainin borgolnya Rido

Selama menulis naskah ini, kami rutin diskusi di grup. Karena kami bertiga beda kota semua, jadi grup adalah tempat diskusi utama. Kalau ada apa-apa, selalu dibahas dulu sebelum lanjut nulis ke bab berikutnya. Sebab, kalau nggak dibahas, bab berikutnya bisa ada plot yang bolong dan itu wasting time, karena pastinya harus ditambal lagi. Sebenarnya, setelah selesai pun, kami masih revisi beberapa kali untuk menyesuaikan satu sama lain. Ya, namanya nulis ramai-ramai, pasti susah menyatukan isi kepala 3 orang ke dalam 1 naskah agar menjadi benar-benar utuh. Ini pengalaman pertama nulis bertiga. Biasanya maksimal duet, sih. Hehe. Ternyata seru juga, dan lega banget pas novelnya baru dicetak. Hasil perjuangan berbulan-bulan akhirnya keluar oven.

Demikianlah. Pesan sponsor; jangan lupa baca Bingkai Memori dan Januari; Flashback yang jadi edisi Monthly Series 1 dari penerbit Grasindo :p

Xoxo,
Mput.


Ditulis oleh Petronela Putri

Blog: https://petronelaputribooks.wordpress.com/

Sekilas tentang Petronela Putri: Book-admirer and Friends #2

 

[Guest Post] Bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah?

Familiar dengan judul post di atas? Bagi yang sudah pernah membaca The Magician’s Elephant-nya Kate DiCamillo pasti tahu dong sama tiga kalimat “sihir” itu 😀

Yap gara-gara habis membaca buku tersebut, dan membaca tema guest post yang diberikan oleh Zelie, saya jadi kepikiran tentang tempat khayalan yang hanya ada di dalam cerita atau buku. Bagaimana kalau tempat itu benar-benar ada? Kenapa tidak? Tempat itu mungkin saja benar-benar ada. Mungkinkah tempat itu benar-benar ada?

Karena bagian ending buku ini mengatakan, kalau ada sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi akhirnya terlupakan, maka peristiwa itu akan menjadi sebuah cerita. Tapi kalau kita mau mencari, maka kita akan menemukan bukti kecil yang menunjukkan kalau cerita itu memang pernah terjadi. Meskipun bukti itu hanyalah sebuah ukiran, tapi ukiran itu adalah bukti sebuah kebenaran yang dipahat.

Saya jadi teringat pada sebuah tempat khayalan yang disebut-sebut sebagai sebuah kerajaan bernama Negara Dipa, yang menurut cerita dan buku-buku lokal Kalimantan Selatan, adalah cikal bakal kerajaan Banjar. Salah satu buku lokal yang menceritakan tentang kerajaan ini adalah Cerita Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan (reviewnya bisa dilihat di sini).

Tidak familiar sama kerajaan Banjar? Kalau begitu ingat Pangeran Antasari, pahlawan nasional yang gambar beliau ada di uang kertas dua ribu rupiah? Nah itu dia beliau, Pangeran Antasari adalah pangeran dari kerajaan Banjar.

Nenek moyang beliau, Sultan Suriansyah, yang dulunya bernama Pangeran Samudera, adalah pangeran dari Kerajaan Negara Daha, dan Kerajaan Negara Daha adalah Kerajaan Negara Dipa yang berganti nama dan berpindah pusat kerajaan lebih ke daerah hilir ribet mode on. Berkat Sultan Suriansyah, Kerajaan Banjar menjadi kerajaan Islam dan terletak di daerah Martapura – Banjarmasin, sedangkan moyangnya, Kerajaan Negara Dipa adalah kerajaan Hindu yang terletak jauh di daerah Hulu Sungai, Kalimantan Selatan.

Dulu guru saya pernah bilang tentang alasan kenapa Kerajaan Negara Dipa tidak termasuk dalam kerajaan-kerajaan Hindu Budha di buku-buku sejarah sekolah. Katanya itu karena bukti-bukti sejarah tentang keberadaan kerajaan tersebut terlalu sedikit. Meskipun ada sebuah candi Hindu bernama Candi Agung di sana, tapi tetap saja tidak bisa dijadikan bukti karena candi tersebut hanya tinggal pondasi dasarnya saja.

Ehm, kebetulan kampung halaman saya di Hulu Sungai tempat di mana Candi Agung berada. Dulu, daerah itu katanya adalah sebuah gunung. Para kakek-kakek dan nenek-nenek kalau pergi ke daerah candi, selalu bilang pergi ke gunung. Kami para cucu-cucunya jadi bingung, karena di daerah itu sama sekali tidak ada gunungnya.

Menurut cerita juga nih, dulu memang ada gunung di sana dan bahwa harta kerajaan disimpan di gunung tersebut. Para penjajah Belanda yang ingin memiliki harta tersebut menggali gunung tersebut. Setiap lapis tanah yang mereka gali, maka selapis tanah pula harta itu dipindahkan ke bawah oleh pihak kerajaan secara gaib. Hingga akhirnya gunung itu rata dengan tanah, para penjajah Belanda tetap tidak bisa menemukan harta kerajaan tersebut. ini penjajah gigih banget ya.

Nah, bukan hanya hartanya saja yang bisa menghilang secara gaib. Tapi Raja, Ratu dan para panglimanya pun menghilang secara gaib dan dikabarkan masih hidup sampai sekarang. Diceritakan pula bahwa daerah Candi itu banyak penghuninya, mereka beraktivitas sama dengan manusia biasa hanya saja mereka hidup di alam sebelah. Dan kalau ada yang mau memanggil mereka bisa saja. Hayooo ada yang berani coba? 😀 Nah, mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai “orang-orang candi”

Banyak kejadian gaib yang terjadi daerah sekitar candi. Mulai dari anak-anak kecil yang sering melihat “orang-orang candi” yang tidak terlihat oleh orang dewasa, orang dewasa yang memang punya kemampuan untuk melihat “orang-orang candi”, “orang-orang candi” yang memang menampakkan diri pada orang dewasa, sampai kesurupan masal di sekolah-sekolah yang berlokasi di sekitar candi pada tanggal yang sama setiap tahun.

Jadi, bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah? kerajaan beserta penghuninya yang menghilang secara gaib ini memang benar-benar ada. Kalau menurut cerita The Magician’s Elephant sebuah ukiran saja bisa menjadi bukti bahwa sebuah peristiwa memang benar terjadi apalagi kalau buktinya sebesar candi kan? Kalau benar, saya jadi pengen melihat “orang-orang candi” tersebut. Menurut rumor, mereka semua berwajah rupawan. Yang wanitanya identik dengan rambut yang panjangnya sampai ke mata kaki.

Sayang saya tidak diberi “kemewahan” untuk bisa bertemu dengan mereka. Waktu saya masih kecil dan innocent plaak saja saya tidak bisa melihat mereka apalagi sekarang saat saya sudah dewasa. nangis dipojokan. Kadang saya sering berkhayal mungkin saja saya memang pernah bertemu mereka tapi ingatan saya dihapus agar keberadaan mereka tetap jadi misteri khayalan tingkat tinggi kebanyakan baca cerita fantasi 😀

Entah benar ada atau tidak, kami punya kebiasaan kalau berjalan di daerah itu selalu menyebutkan permisi atau permintaan maaf kalau-kalau kami tidak sengaja menabrak mereka di jalan dan itu semata-mata karena kami tidak bisa melihat mereka. Karena katanya kalau mereka marah, kita bisa kena penyakit yang aneh-aneh.

Whatever-lah, yang penting asik juga kan kalau kerajaan yang hilang secara gaib itu benar-benar ada. Bayangkan tanpa sadar setiap hari saya berjalan di daerah kerajaan tempo dulu lengkap dengan masyarakatnya yang tidak kasat mata, kereeen.

Bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah? Ya, seperti kata polisi Leo Leo Matienne di Magician’s Elephant, kita harus selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini sesering yang kita berani karena kita bisa mengubah dunia dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Jadi, bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah?


Ditulis oleh: Ira @ Ira Book Lover

Blog: http://irabooklover.wordpress.com/

Sekilas tentang Ira: Book-admirer and Friends #1

[Guest Post] 5 Things Readers Don’t Know About the Dirt Diaries Series

Every series comes with its own behind-the-scenes story. Here are some things you might not know about the process of creating and writing the Dirt Diary books.

  1. The original idea came from something I heard on the radio. I was listening to a story about teen mortification, and it mentioned a girl who cleaned houses with her mom and had to clean some of her classmates’ houses. That premise seemed perfect for a book, and I knew I had to try writing it!
  2. Even though Rachel hopes to be a pastry chef one day, I’m actually not a very good baker. When it comes to baking (and cooking in general) I only attempt recipes that are idiot-proof. I had to do a lot of research to make sure that Rachel’s baking endeavors were plausible in the story since I didn’t have much baking knowledge to pull from.
  3. Originally, Rachel was a year younger (thirteen) and she wasn’t interested in baking at all. I wound up making her a year older so that I wouldn’t have to worry about the legal issues of someone under fourteen working, and I added the baking element to give Rachel a break from all the embarrassing things she was dealing with in her life.
  4. The diary in the first book didn’t become part of the story until I’d been working on it for almost a year. I wound up introducing the diary because I needed something that tied all the different plot threads together, and I also wanted to give Rachel a physical secret that she was hiding from other people.
  5. The Dirt Diary was written as a standalone with series potential, which meant that I could continue Rachel’s antics in other books but that her story in the first book would be satisfying on its own. When the book sold in a two-book deal, I was excited to work on the sequel, The Prank List, but I also made sure to give the second book its own story arc, so that if we never sold a third book, readers wouldn’t be disappointed. Luckily, the series turned into three books, and I was able to tell one more chapter of Rachel’s story in The Gossip File.

9781492604631-PRThe Gossip File by Anna Staniszewski

January 6th, 2015; ISBN: 9781492607854; $6.99; Trade Paper

Sourcebooks Jabberwocky– Juvenile Fiction, Social Issues

Ages 10-14, Grades 4-8

The Gossip File:

  • Chandra lets little kids pee in the pool.
  • Melody stole $ from the café register.
  • Ava isn’t who she says she is…

 

Ava is cool. Ava is confident. Ava is really Rachel Lee who is lying her butt off.

Rachel is visiting her dad at a resort in sunny Florida and is ready for two weeks of relaxing poolside, trips to Disney World – and NOT scrubbing toilets. Until her dad’s new girlfriend, Ellie, begs Rachel to help out at her short-staffed café. That’s when Rachel kinda sortaadopts a new identity to impress the cool, older girls who work there. Ava is everything Rachel wishes she could be. But when the girls ask “Ava” to help add juicy resort gossip to their file, Rachel’s not sure what to do…especially when one of the entries is a secret about Ellie.

Author’s Short Bio:

Anna Staniszewski lives outside of Boston with her husband and an adorably crazy dog. She was named the Boston Public Library’s 2006-2007 Writer-in-Residence and a winner of the 2009 PEN New England Discovery Award. When she’s not writing, Anna spends her time teaching, reading, and not cleaning her house. Visit her at www.annastan.com.

You also can read my interview with Anna here.

Buy Links (international!):

Amazon | Apple | B&N | BAM |Chapters | Indiebound | Kobo

Buy Links (Indonesia):

OpenTrolley | Periplus 

Anyway, have I mentioned that you can win 1 complete set of the Dirt Diaries series? Well, now you know!

Follow the steps on the Rafflecopter and I wish you a best luck!

a Rafflecopter giveaway

( for US residents only, sorry! 😦 )

Thanks Sourcebooks and Anna Staniszewski, to let me be part of this virtual tour! Hope you all have a good time 😉