[LPM] Pre-Sale Big Bad Wolf Jakarta 2017

Auuuuwww!!!
Halo, teman-teman!

Big Bad Wolf (BBW) datang lagi ke Indonesia, tepatnya di Jakarta. Masih di tempat yang sama dengan tahun lalu, ICE BSD. Yaa, saya ngerti kalian akan protes kalau BSD kan Jakarta Coret alias udah gak masuk Jakarta. Tapi ya udahlah ya, yang penting masih terjangkau.

Saya berhasil mendapatkan VIP Pass untuk BBW Surabaya 2016 karena menang undian. Kali ini, saya berhasil mendapatkannya lewat jalur vlogger. Yeay!


Saya tanya ke teman-teman komunitas, apa ada yang datang juga pas pre-sale? Kebanyakan yang domisili di Jakarta jawab ikut. Bahkan ada yang domisilinya di luar Jakarta, mau datang juga. Akhirnya janjian ketemu, deh.

Tiket bisa ditukarkan mulai jam 9, jadi saya tiba di ICE juga sekitar jam tersebut. Ternyata lagi banyak acara juga di ICE, sehingga banyak juga spanduk dan umbul-umbul acara lain. BBW sendiri letaknya agak belakang (hall 7-10) dan sebenernya mudah dikenali pintu masuknya karena dari pagi aja udah macet 😄

Pas saya sampai, tempat parkir sudah mulai padat di bagian depan hall. Jadi saya agak ke tengah tapi cuma lurus-lurus dari pintu hall. Parkirnya luas banget walau gak ada atapnya, jadi kamu mungkin bisa antisipasi hujan dengan bawa payung/topi.

Begitu masuk, sepi. Karena ternyata itu hall 10, sedangkan masuk dari hall 7. Jadilah saya jalan dulu ke sana sambil kontak Kak Astrid. Saya juga cari tempat penukaran tiket untuk vlogger tapi gak nemu. Saat saya tanya ke salah satu petugas, katanya lagi diambil jadi tunggu aja.

Saya duduk deh di kursi yang ada di depan pintu masuk ruangan. Sambil ngeliatin orang yang lagi kasak-kusuk siapin tempat duduk buat orang yang kayaknya penting, saya celingukan cari Kak Astrid.

Ternyata Kak Astrid ke ATM dulu. Saya baru inget juga buat ambil duit tapi keburu males *heh

Karena merasa udah nunggu lama, saya tanya ke petugas yang lain. Dikasih tau deh, kalau bisa tukar di loket yang sebelahan sama penukaran tiket member.

Pas saya ke sana, wihh antriannya panjang banget. Ada dua lapis pula. Bagian blogger/vlogger sepi tapi gak keliatan ada petugas. Untunglah saat disamperin, nongol petugasnya.

Saya sebut saya dari vlogger dan diminta ID card. Bodohnya, saya sempat panik karena gak merasa punya ID card. Saya kan vlogger independen.

Lalu saya baru ngeh kalau yang dimaksud adalah KTP. *facepalm

Tiket sudah di tangan. Saya sempat dengar ada yang protes kenapa saya bisa duluan. Lalu dijelaskan kalau saya jalurnya beda. Tentu saya kesenengan, tapi jadi makin gak berani mengabadikan kenyataan itu. Nanti saya diamuk massa 😄

Anyway, tiket VIP kali ini ukurannya kecil. Gak kayak yang tahun lalu saya dapat, gede banget.


Setelah masuk ke ruangan, sudah cukup banyak orang yang datang. Kali ini, disediakan trolley besi yang besar. Ada juga keranjang yang ukuran besar, sedang, dan kecil. Yang kecil gak pake penarik sehingga kurang nyaman, sih. Tapi siap-siap aja gak kebagian. Saya pun cuma kebagian keranjang besar, udah gak ada trolley besi.

Lalu mulailah saya berburu buku murah berkualitas oke.

Saya ketemu dengan beberapa teman saya. Antara lain Kak Astrid yang akhirnya menemani sebagian besar waktu saya di sana, termasuk nemenin nyortir kekhilafan, bayar belanjaan, sampai akhirnya makan (lagi) di AEON. Anyway, makanan kami di AEON tuh enak dan murah lho. Tapi saya sudah lupa nama tempatnya apa 😄

Jangan-jangan enak karena laper juga ya, hmm…

Saya juga ketemu sama Kak Ren, Phie, Mbak Tru (ini saya ketemu sepihak karena Mbak Tru sibuk banget kayanya), Mas Ijul, dan Teh Annisa.

Selain mereka, saya sempat juga ngumpul sama anak-anak Booktube; Dena, Litsa, dan Yayang. Ternyata Yayang itu memang bawel banget, ya 😄

Kami juga sempat ketemu dengan Orizuka dan Andry Setiawan. Terus terang, saya malah lebih kenal karyanya Kak Andry daripada Orizuka. Maaf ya, saya kurang update >.<

Oh iya, pas Litsa telpon saya buat janjian ketemu, saya malah terdistraksi sama kerumunan orang. Penasaran banget saya, karena banyak orang dengan kamera yang berkeliling di satu titik.

Saya sudah mencoba menerobos kerumunan tapi gagal. Masih gak tahu juga ada apa di situ karena rata-rata lebih tinggi dari saya, hiks. Sampai akhirnya ada bapak yang keluar dari kerumunan dan menggumam seolah tahu kebingungan saya, “Bu Susi…”

Ohhh..ternyata ada Ibu Susi, Menteri Perikanan kita. Saya pengin banget foto sama dia, sampai udah coba cari beberapa sudut tapi gagal 😦

Akhirnya perburuan buku harus terus berlanjut.

BBW kali ini menurut saya menawarkan berbagai hal baru. Salah satunya food truck yang bisa kita jadikan juga tempat istirahat sambil mengisi energi lagi.

Ada juga sudut bermain anak yang super besar dengan semacam kastil dari balon. Saya gak tahu sih, itu bayar atau gak. Yang jelas, itu membantu banget buat para orangtua.

Saya sempat rekaman video sama Litsa, Dena, dan Yayang. Gak gitu banyak sih, karena jujur saya juga bingung kalau mendadak begitu. Atau mungkin saya juga udah kelaparan jadi sering bengong 😄

Mereka akan berbagi tips serta kesan mengikuti BBW lewat channel YouTube mereka. Berhubung kayaknya video saya gak gitu lengkap dan kemampuan editing saya super lelet, saya berbagi tips di sini saja, ya!

  1. Bawa makanan dan minuman dari rumah
  2. Ini penting karena meski tersedia food truck, harganya cukup mahal. Kalau sekadar buat pelengkap saat terdesak sih, gak masalah. Tapi menurut saya, berkeliling mencari buku akan sangat menguras energi. Jadi, lebih baik siapkan bekal supaya gak ada pengeluaran berlebih.

  3. Datang lebih awal
  4. Seperti saya sebutkan tadi, BBW memiliki banyak sekali peminat. Datang lebih awal akan memberikan kamu keuntungan parkir yang lebih leluasa. Selain itu, kamu akan punya waktu lebih banyak untuk mencari buku.

  5. Kenakan pakaian yang nyaman
  6. Berkeliling dengan heels? Wah, lupakan! BBW kali ini menggunakan 4 hall yang pastinya luas banget dan bakal bikin kamu pegel kalau keliling pake heels. Gunakan juga pakaian yang nyaman supaya kamu bebas bergerak.

  7. Siapkan uang tunai
  8. Seperti BBW lainnya, kartu debit BCA tidak diterima. Padahal BCA adalah bank dengan nasabah yang cukup dominan di Jakarta. Jadi, kamu perlu bawa uang tunai kalau kamu gak ada kartu kredit. Catatan saja, kartu kredit BCA diterima ya. Tapi, kamu tetap perlu bawa uang tunai karena setelah pembayaran di kasir, ada booth-booth yang menjual berbagai aksesoris lucu.

  9. Luangkan waktu yang cukup
  10. Ini penting karena antrian pembayaran itu super panjang. Saya saja sudah menggunakan fast track, tetap kena satu jam antrian. Selain itu, mana bisa sih, berkeliling cari ‘harta karun’ dalam waktu terbatas? Hehhe

  11. Siapkan kartu Mandiri
  12. Banyak banget keuntungan yang bisa kamu dapat kalau kamu menggunakan Mandiri, baik itu kartu debit, kartu kredit, e-money, atau e-cash. Seperti yang saya bilang tadi, fast track saat pembayaran. Ada juga tukar poin untuk diskon. Lalu ada juga penukaran poin untuk hadiah lainnya. Pokoknya, kamu harus bawa kalau punya 🙂

Rencananya besok saya akan datang lagi ke BBW bareng ponakan-ponakan saya. Semoga saja masih bersahabat situasinya.

Kalau kalian juga ada rencana ke sana, tinggalkan komentar di sini, ya! Siapa tahu kita bisa ketemu 🙂

Thanks for reading, friends!

Lots of love, Zelie ❤

[LPM] ASEAN Literary Festival 2014 Day 2

Hi there!

Terus terang, saat teman-teman di BBI memperbincangkan acara ini, saya tidak tertarik untuk datang karena lokasi yang jauh, Taman Ismail Marzuki. Iyalah jauh, secara saya kan tinggal di Jakarta Barat, nyaris Tangerang pula.

Pergi ke Taman Ismail Marzuki pun terakhir kali saya lakukan saat masih SD. Enggak mungkin kan saya inget arah jalan kesana? Makin nambah persoalan.

Begitu saya tahu kalau Clara Ng mengisi salah satu sesi yang bertema “Children Literature: A Quest for Identity”, saya langsung membulatkan tekad untuk datang.

Dan akhirnya, sekitar jam 2 siang saya sampai di tempat acara tanpa banyak kesulitan karena saya dibantu oleh Waze, yeay! *bukan promosi berbayar

Saya langsung saja mencari ‘korban’ yang bisa menemani saya selagi menunggu jam 3 tiba. Iya, menunggu sesi Clara Ng.

Untungnya, ada Selvi di sana 😀 *joget-joget kegirangan *bukan goyang itik *dipelototin Selvi

Selvi sedang mangkal bertugas di booth Goodreads Indonesia. Tidak sendirian, dia bersama dengan Kak Ayu, rekan GRI juga.

Anyway, sebelumnya saya minta maaf ya karena saya ternyata tidak banyak foto-foto selama acara tersebut. Malah bisa dibilang saya enggak foto apa-apa >,<

Jadi, semua foto yang ada di post ini adalah hasil cabutan dari twitter atau website event tersebut.
Continue reading “[LPM] ASEAN Literary Festival 2014 Day 2”

LPM: IRF 2013 at Museum Bank Mandiri

Hai!

Sudah seminggu lewat dari tanggal 8 Desember 2013, tapi senangnya masih terasa sampai dengan hari ini.

Buat yang penasaran apa yang terjadi pada tanggal 8 Desember, mungkin bisa lihat website berikut ini: Festival Pembaca Indonesia.

Too lazy to check? Okay, saya akan kasih tau sedikit, deh #sigh

Goodreads Indonesia menjadi penyelenggara untuk event “Indonesian Readers’ Festival 2013” yang bertempat di Museum Bank Mandiri, Kota Tua. Dijadwalkan selama dua hari (7-8 Desember 2013), acara ini mengambil tema “Harmoni Dunia Membaca.”

Saya sendiri hanya bisa datang di hari kedua, itu pun dengan perjuangan karena nyaris tidak mendapat restu. Syukurlah, akhirnya saya bisa mendarat dengan selamat di acara tersebut sekitar jam setengah dua siang.

Saat saya datang, kebanyakan booth sudah mulai sepi. Ya iyalah, acara sudah mau selesai baru muncul.

Sempat bingung kemana harus melangkah,untunglah saya bertemu dengan Kak Indah yang segera mengarahkan saya mampir ke booth Blogger Buku Indonesia alias BBI. Tepat waktu, talkshow dengan Rahib tentang Asyiknya Mereview Buku baru saja akan dimulai.

Kalau dari bocoran pembicaraan bersama Kak Astrid sebelumnya, katanya sih Rahib malu-malu lho untuk jadi narasumber. Untung aja ada Kak Astrid yang enggak tahu malumau membantu Rahib biar bisa rileks aja dan menjawab pertanyaan dengan lancar plus santai.

Ayo, coba lihat di gambar ini. Lebih semangat Rahib atau Kak Astrid pas difotongobrol?

20131208_133357 20131208_133404 20131208_133354

Geser, geser, geser.. Terus denger ada yang nyeletuk, kalau mendingan yang dengerin ini tuh didahulukan yang bukan member BBI. Yah, berhubung saya merasa sudah sangat senang mereview buku dan udah cukup sok akrab dengan Rahib, saya bergeser deh.

Continue reading “LPM: IRF 2013 at Museum Bank Mandiri”

Meet ‘n Greet Pintu Harmonika

Sebenarnya saya sudah berencana menceritakan pengalaman saya saat Meet ‘n Greet Pintu Harmonika sejak minggu lalu. Berhubung waktu dan tempat tidak mengijinkan, terpaksa baru sekarang dituliskan.

Berawal dari tweet @_Plotpoint yang menyebutkan bahwa akan ada Meet ‘n Greet dengan penulis dan movie maker dari Pintu Harmonika. Tanggal 28 April 2013, jam 2 siang, bertempat di Gramedia Mall Taman Anggrek. Dengan perasaan tidak karuan, saya mengecek kalender. Langsung kegirangan pas tau 28 April itu hari Minggu. Kemungkinan besar bisa, nih.

Langsung bergerilya mencari teman untuk pergi kesana. H-2, belum ada yang bersedia. Mulai senewen dan berpikir, apa enggak usah aja ya? Apalagi, saat saya tanya apakah harus mendaftar terlebih dahulu, tidak mendapat tanggapan.

Saat baca akan ada sesi tanda-tangan, iseng saya tanya, apakah buku tersebut harus dibeli di Gramedia atau boleh dibawa dari rumah? Eh,dijawab langsung oleh Kak Clara, bahwa yang penting datang, pasti ditandatangan.

Whii, langsung kesenengan bak ababil di-mention sama BebekLieur (siapa tuh? Ada deh.. XD)

Jadilah, membulatkan tekad untuk datang. Dan untungnya, temen ada yang mengkonfirmasi kalau dia bisa menemani. Thank you ya, buat yang udah nemenin! (siapa lagi tuh? Kasih tau gak ya… XD)

Nah, akhirnya berangkatlah saya pergi ke acara Meet ‘n Greet tersebut. Karena temen saya itu super bersemangat, akhirnya saya sampai di Taman Anggrek sekitar jam 11. Itu pun saya sudah membuat teman saya menunggu dari jam 9 :p

Kata teman saya, “Cek TKP dulu, gan.” Akhirnya kami pun mengintip ke area Gramedia. Sepi, tidak ada kesibukan berarti. Cuma terlihat ada beberapa baris kursi yang disusun di dekat area rak novel. Sempet curiga, apa salah informasi,ya? Tapi karena ada kursi-kursi tadi, yah sudahlah, yakin saja.

Berhubung saya juga mau servis handphone, pergilah kami ke service centre terlebih dahulu. Sedikit deg-degan, takut telat. Nanti enggak dapet tempat duduk #penting

Akhirnya, jam dua kurang lima menit, saya dan teman bergegas ke Gramedia. Di pintu masuk Gramedia, disambut dengan selebaran Meet ‘n Greet. Sebenarnya saya sedikit heran juga, sih. Kenapa selebaran tidak disebar sejak pagi? Yah sudahlah ya, bukan urusan saya juga.

Sampai di spot, suasana terlihat sudah mulai ramai. Untung masih ada dua bangku yang tersisa dan langsung saya tempati. Kursi untuk pembicara sudah terlihat disediakan dan banner pun sudah muncul. Beberapa orang dengan kaus Plotpoint pun berseliweran.

Dan, saya pun melihat Kak Clara Ng. Huaa.. Rasanya seneng banget >,<

Ternyata, yang duduk di barisan depan saya, dua anaknya, Caty dan Elysa. Komentar teman saya melihat kedua anak tersebut adalah: “Emang beda ya, kalau anak penulis, baca buku. Tapi, gue lebih suka begini, sih. Daripada liat anak jaman sekarang, pegangnya iPad. Kan lebih asyik liat anak kecil bawa buku.” Kurang lebih begitu deh, dan saya setuju sama komentarnya.

Sekitar setengah jam kemudian, akhirnya acara pun dimulai. Terus terang, saya lupa nama pembawa acaranya siapa. Saya juga tidak ingat, apakah dia menyebutkan namanya atau tidak. Terlalu bersemangat, sih #alibi

Oh ya, saat acara baru akan dimulai, ternyata..yang emang niat duduk di situ buat dengerin tuh cuma saya dan temen saya. Yang lain, cuma numpang duduk. Begitu disebut acara akan dimulai, langsung banyak yang melipir. Dan saya pun bengong, cuma segini nih? :O

Seiring berjalannya acara, mulai banyak lagi yang berdatangan dan mendengarkan penjelasan dari Kak Clara Ng dan Kak Icha Rahmanti, sebagai penulis dari novel Pintu Harmonika.

Oh ya, pemeran dalam film Pintu Harmonika juga ada yang dateng, lho. Adam dan Nashabigail, pemeran dari David dan June. Sempet disebut siapa pemeran Rizal, tapi entah kenapa tidak berhasil ingat. blushing

Jadi, ternyata, film Pintu Harmonika itu adalah film yang terdiri dari tiga film pendek dengan tiga plot cerita berlainan, diarahkan oleh tiga sutradara perempuan. Cerita di dalam film, hanya dihubungkan dengan kenyataan bahwa mereka sama-sama tinggal dalam ruko.

Nah, itu juga yang menjadi alasan kenapa diberi judul ‘Pintu Harmonika’. Coba perhatikan deh, pintu di ruko 🙂 Karena mengambil latar kehidupan di dalam ruko, maka diberi judul seperti itu.

Kak Clara Ng, dalam penjelasannya soal buku ini, menyebutkan kalau Pintu Harmonika itu lahir dari kerinduan akan film keluarga. Film yang bisa ditonton oleh seluruh keluarga, bukan hanya papa-mama, anak kecil, tapi bisa ditonton bersama.

Novel Pintu Harmonika adalah hasil adaptasi dari skenario filmnya. Saat diberi tawaran untuk menulisnya, Kak Clara merasa membutuhkan partner. Maka, diajaklah Kak Icha Rahmanti untuk bekerjasama.

Kenapa dipilih Kak Icha? Karena katanya, Kak Icha sudah berpengalaman dalam menulis novel remaja. Plus, Kak Icha juga penggemar novel anak, sama seperti Kak Clara. Oh ya, bocoran sedikit, Kak Clara juga menulis buku anak, lho 😀

Mendengar cerita saat mereka bekerjasama membuat novel, terlihat bahwa keduanya punya chemistry yang cukup kuat. Disebut juga bahwa deadline untuk tulisan berjalan dengan lancar. Novel selesai tepat waktu, bahkan Kak Icha sendiri mengaku takjub bahwa semua selesai tepat waktu. Sebagai procrastinator yang baik, saya jadi malu mendengarnya :p

Cerita di dalam novel Pintu Harmonika dibuat sedikit berbeda dengan skenario di dalam film. Di dalam novel, ketiga tokoh utama (Rizal, June dan David) terhubungkan dalam sebuah tempat yang mereka sebut sebagai ‘SURGA’.

Surga adalah semacam sanctuary bagi mereka, tempat mereka ‘melarikan diri’ dari masalah. Entah itu masalah di sekolah, keluarga ataupun saat merasa ingin sendiri. Mereka bertemu di Surga dan menghabiskan waktu bersama di sana.

Suatu hari, terdapat papan pengumuman di Surga yang mereka cinta. Surga akan dijual! Siapa yang rela kehilangan apa yang dicinta? Maka, misi penyelamatan surga pun dimulai. Apakah mereka berhasil menyelamatkan Surga? Atau, apakah Surga memang perlu diselamatkan? Silahkan cari tahu sendiri di dalam bukunya yaa 😄

Pintu Harmonika pun sesungguhnya mengangkat isu kehidupan di ibukota. Dimana anak cenderung kehilangan serunya masa kecil karena hidup yang berbatas tembok. Sulit rasanya menemukan tempat yang nyaman untuk bermain bersama teman, dekat dengan rumah dan.. gratis 😄

Karena itulah digambarkan bahwa bagaimana para tokoh utama bisa begitu cinta dengan Surga, walau terkesan ‘biasa’ atau malah ‘terlantar’. Setidaknya, ada pesan bahwa yang dibutuhkan dalam hidup bukanlah kemewahan tapi cinta dan perasaan aman walau dibalut kesederhanaan.

Saya sudah pernah memberi review untuk bukunya. Setelah mengikuti meet ‘n greet, saya menjadi semakin mengerti makna yang hendak disampaikan dalam buku tersebut. Saya juga jadi rindu untuk membaca buku. Mari sejenak melupakan review (sejenak aja, hutang masih menumpuk XD) Sometimes, we just too busy to judge and not enjoy the read 🙂

Oke, kembali lagi ke soal Meet ‘n Greet.  Setelah mendengarkan penjelasan Kak Clara dan Kak Icha soal proses kreatif mereka, sesi tanya-jawab pun dimulai. Saya ikut bertanya soal letak ruko yang beda antara penjelasan dalam cerita dan gambar di cover. Sayangnya, saya sendiri tidak begitu ingat letak yang benar seperti apa 😄

Sepertinya yang disebutkan oleh Nashabigail yang tepat. Dia yang menjawab kalau posisi ruko dalam film, berbeda dengan posisi ruko yang tergambar di cover novel. CV Shahnaz terletak paling ujung, toko Firdaus yang berada di tengah.

Karena saya dan seorang ibu yang lain bertanya, kami pun mendapatkan hadiah novel yang kemudian ditandatangan langsung oleh Kak Clara, Kak Icha, Nashabigail dan Adam. Padahal, saya sudah punya yang bertandatangan penulis dan film-maker. Oh ya, karena anaknya Kak Clara ikut bertanya, dia juga kebagian novel deh. Maaf, saya lupa, itu Caty atau Elysa yang dapet 😄

Saat mengantri tanda-tangan, saya pun meminta Kak Clara untuk tanda-tangan novelnya yang lain. Sekedar catatan, saya sudah mempersiapkan novel-novel Kak Clara dari rumah. Cuma lima sih, tapi tebalnya itu lho yang bikin pegel juga sebenernya. Enggak apalah, demi cintaku pada Kak Clara #penting

Oh ya, dapet ilmu juga dari Kak Clara. Karena masih sempet belanja Manta Dies Irae dulu, saya pun langsung minta tanda-tangan gitu. Berhubung masih dibungkus plastik, Kak Clara pun mengajarkan bagaimana cara membuka bungkus plastiknya. Ditekuk di bagian tengah gitu dan..bungkus pun terbuka.

Komentar dari crew Meet ‘n Greet yang duduk di deket Kak Clara: “Oh, jadi.. Kemarin saya buka sampul untuk sekitar seratus buku itu caranya salah, ya?” 😄

Senang akhirnya ketemu penulis favorit, walau akhirnya malah speechless gitu mau ngobrol apa. Berharap bisa jadi semacam ababil yang bakal langsung sok akrab dan nanya-nanya gitu, tapi malu. Enggak apalah, toh Kak Clara juga ramah dan rajin bales mention di twitter #dikeplak 😄

Saat datang Meet ‘n Greet, handphone saya sedang diservice. Untung saja bawa temen yang berbaik hati untuk mengabadikan gambar saya dengan Kak Clara. Nih, jadi sah, ya. Enggak ada yang bisa protes NO PIC = HOAX. Buku yang lainnya mana? Tuh, liat aja yang di bangku, tas saya sudah menggendut gitu. Kan ribet kalau harus pegang lima buku :p

Clara Ng & ZP

Pokoknya, enggak nyesel deh pergi ke Meet ‘n Greet Pintu Harmonika kemarin. Ketemu sama penulis-penulis yang ramah dan enggak jaim.  Jujur aja, saya cuma tahu satu novel dari Kak Icha dan itu pun bacanya udah lama banget. Tapi, sehabis mengenal Kak Icha lebih jauh dari Meet ‘n Greet, sepertinya saya akan mulai hunting novel Kak Icha, nih 😄

Kesan yang lainnya, saya merasa sepertinya minat orang Jakarta untuk bertemu dengan penulis itu masih rendah karena acara kemarin tergolong sepi, menurut saya. Apa karena promosi yang kurang? Entahlah.

Anyway, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, saat ini saya jadi punya dua novel Pintu Harmonika. Jadi, saya pun memutuskan untuk memberikan novel tersebut sebagai giveaway.

Novel yang akan saya berikan adalah yang saya beli sebelumnya di GubukBuku. Udah bekas saya baca sih, tapi kondisinya masih bagus, kok. Ada tanda-tangan dari Clara Ng, Icha Rahmanti, Sigi Wimala, Ilya Sigma(sutradara filmnya). Harusnya sih ada tanda-tangan Luna Maya, tapi entah kenapa, enggak ada. Cari sendiri aja yaa 😄

Caranya, gampang aja. Cukup menjawab  dan berikan alasan, apa novel dari Icha Rahmanti yang kamu rekomendasikan untuk saya? Syarat yang lainnya, harus berdomisili di Indonesia atau menggunakan alamat pengiriman di Indonesia.

Silahkan tulis jawabannya di kolom komentar post ini, ya.

Jawaban saya tunggu sampai hari Sabtu, 11 Mei 2013, jam 5 sore. Pengumuman pemenang di hari yang sama, jam 8 malam.

Pemenang harus menghubungi saya lewat komen di blog atau mention di twitter untuk konfirmasi data diri dalam waktu 2×24 jam sejak pengumuman. Bila tidak ada konfirmasi, dianggap gugur dan dialihkan ke peserta lain yang beruntung.

Ditunggu, ya, partisipasinya.

Lots of Love, ♥ ZP ♥